Sabtu, 29 Juni 2013

Dayeuh Luhur: Jejak-Jejak Kerajaan Sumedang di Kota Atas

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan mengunjungi Kota Sumedang. Diperlukan sekitar dua jam perjalanan menuju Kota Sumedang dari Bandung.

Tujuan saya kali ini di Kota Sumedang adalah Dayeuh Luhur, -kota atas/tinggi (sunda-red). Dayeuh Luhur adalah sebuah tempat wisata ziarah dan sejarah yang ramai dikunjungi terutama menjelang muludan (bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW). Dayeuh Luhur terletak di daerah cukup tinggi di bagian puncak Gunung Rengganis.


Untuk mencapainya, terlebih dulu saya transit di Desa Ganeas. Kemudian, dilanjutkan dengan menyusuri jalan desa sejauh tujuh kilometer. Dayeuh Luhur ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua dan empat. Masyarakat Dayeuh Luhur mayoritas beragama Islam.

Mungkin Anda tertarik ke Dayeuh Luhur dengan berjalan kaki. Anda tidak akan kecewa, sepanjang perjalanan kita disuguhi pemandangan alam yang “seksi”. Di sisi kanan dan kiri terlihat bukit-bukit kecil nan elok. Masyarakat yang datang ke Dayeuh Luhur tidak hanya berasal dari Sumedang. Dari luar daerah seperti Jakarta, Bogor, Karawang, Bekasi, Subang, dan Bandung terutama yang berada di wilayah Jawa Barat.

Ada yang ziarah, ada juga yang hanya sekadar melihat-lihat. Desa ini pada masa lampau ini pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang Larang. Terdapat pula peninggalan tongkat yang dikenal oleh masyarakat Sumedang sebagai tongkat Mbah Jaya Perkasa. Mbah yang satu ini adalah patih dari Kerajaan Sumedang. Dari ketinggian tempat ini, kita dapat melihat kota Sumedang dan sekitarnya.

Dudu Natawirya, salah seorang juru kunci di Dayeuh Luhur mengisahkan tentang kepindahan lokasi pusat pemerintahan Kerajaan Sumedang Larang dari Kutamaya (Sumedang sekarang) ke Dayeuh Luhur. Pemindahan ini disebabkan karena adanya konflik dengan Kesultanan Cirebon.

“Ada krisis antara Kerajaan Sumedang Larang dengan Kesultanan Cirebon. Sebabnya Putri Harisbaya. Prabu Geusan Ulun menjadi tamu di Kesultanan Cirebon setelah beliau belajar di Kerajaan Mataram,” ujar Dudu saat ditemui di rumahnya, Senin (3/9).

“Beliau bertemu dengan Putri Harisbaya, isteri Panembahan Ratu (Raja Cirebon). Besoknya seluruh Kerajaan Cirebon gempar karena permaisurinya hilang beserta tamunya.”

Namun, menghilangnya Putri Harisbaya dari Kesultanan Cirebon bukan karena sengaja diculik Prabu geusan Ulun. Dalam buku /Sumedanglarang/ yang disusun oleh R. Abdul Latief disebutkan, Putri Harisbaya yang terkenal cantik itu sangat mencintai Prabu Geusan Ulun dan memintanya utnuk membawanya ke Kerajaan Sumedang Larang. Putri Harisbaya mengancam akan bunuh diri apabila tidak dibawa serta.

“Prabu Geusan Ulun adalah tokoh yang cukup penting pada masa itu,” tambah Dudu yang diangkat menjadi juru kunci sejak tahun 2004.

Perubahan politik pada waktu Prabu Geusan Ulun berkuasa ditandai dengan runtuhnya Kerajaan Padjajaran Hindu. Hal ini diakibatkan karena tekanan kesultanan Banten Islam. Prabu Geusan Ulun akhirnya memproklamirkan Kerajaan Sumedang Larang sebagai penerus Kerajaan Sunda-Padjajaran. Jaya Perkasa, Nangganan, Kondang Tapa, dan Sayang Hawu adalah para pembesar Kerajaan Sunda-Padjajaran yang menyokong lahirnya Kerajaan Sumedang Larang. Ini diperkuat dengan diserahkannya mahkota Kerajaan Binokasih yang sekarang disimpan di Museum di Sumedang.

Wilayah Kerajaan Sumedang Larang pada masa Prabu Geusan Ulun hampir meliputi seluruh Jawa Barat sekarang, kecuali daerah Cirebon dan Banten. Dalam Pustaka Kertabhumi, disebutkan bahwa Geusan Ulun memerintah wilayah Padjajaran yang telah runtuh di Bumi Parahyangan. Geusan Ulun wafat pada 1610 dan dimakamkan di Dayeuh Luhur. Makam Prabu Geusan Ulun berorientasi utara-selatan dan ditandai dengan adanya jirat 3 teras dari keramik dan nisan pada bagian kepala dan kaki.

Larangan Memakai Batik

Di situs tersebut terdapat papan tulis bertuliskan “Pakaian Batik Hanya Sampai Di Sini”. Saya melongo memperhatikan bunyi kalimat itu. Memakai batik merupakan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Bahkan pemerintah menjadikan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Namun, bunyi kalimat itu seolah melarang menggunakannya.

Saya temukan papan pengumuman itu di area makam Mbah Jaya Perkasa, Dayeuh Luhur Sumedang. Mitos yang berkembang di masyarakat adalah bila ke Dayeuh Luhur dilarang mengenakan pakaian bercorak batik. Larangan ini menjadi kearifan lokal yang dilestarikan di Dayeuh Luhur. Masyarakat Dayeuh Luhur yang tinggal di ketinggian 700 meter di bawah permukaan laut sangat mempercayai larangan itu dan nyaris tak ada yang melanggarnya.

“Pernah kejadian dulu reporter Lativi (sekarang TvOne) memakai baju batik. Tiba-tiba dia jatuh dari tangga makam. Setelah sadar katanya seolah-olah ada yang mencekik,” kenang Dudu Natawirya. Kebanyakan yang melanggar adalah orang luar.

Larangan ini bermula dari adanya konfrontasi antara Kerajaan Sumedang Larang dengan Kesultanan Cirebon (1578-1601). Sementara batik pakaian dari Jawa atau wilayah wetan (timur), termasuk juga Cirebon. Kalau tidak percaya dan melanggarnya silahkan coba sendiri.

Masyarakat Dayeuh Luhur pada umumnya merupakan petani tradisional. Beberapa di antaranya merupakan pembuat gula kawung eraksi. Di musim hujan air kawung yang disadap lebih banyak hasilnya. Sayangnya para pembuat gula kawung ini dari hari ke hari semakin berkurang. Penghasilan dari menjual gula dan prose membuat gula dianggap tidak sepadan. Ditambah lagi, musim kemarau semakin tidak bisa diperkirakan.

Dayeuh Luhur mengingatkan saya untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya. Kita harus senantiasa mengambil pelajaran dari sejarah para leluhur. Bagaimanapun, kita yang sekarang berpijak di bumi ini ada karena sejarah. Kita terlahir dari sejarah. [tr]


Sumber :
Faisal Fadilla Noorikhsan
http://salmanitb.com/2012/09/dayeuh-luhur-jejak-jejak-kerajaan-sumedang-di-kota-atas/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar