Senin, 14 Juni 2010

Sumedang

Aeh aeh di Sumedang seueur gunung
Gunung Merak sisi cai
Gunung Puyuh tebeh kidul
Mapay-mapay sukahaji
Molongpong jalan ka gedong.


Pupuh Maskumambang ini menggambarkan keadaan geografis Kabupaten Sumedang yang dikelilingi gunung. Sumedang berasal dari dua kata yaitu Insun yang berarti saya, dan Medal yang berarti lahir. Pada masa kejayaannya, kerajan Sumedang Larang sangat luas yaitu Jawa Barat dikurangi Kesultanan Cirebon dan Banten. Kabupaten sumedang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang terletak pada 107°44` - 160°30` Bujur Timur dan 6°36` - 7°2` Lintang Selatan. Jarak terjauh dari arah Barat - Timur 53 Km dan Utara Selatan 51 Km, dengan batas administrasi sabagai berikut

Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu
Sebelah Selatan : Kabupaten Bandung dan Garut
Sebelah Barat : Kabupaten Bandung dan Subang
Sebelah Timur : Kabupaten Majalengka

Kabupaten Sumedang secara geografis merupakan wilayah yang strategis, karena jarak ke pusat kota Bandung yang menjadi ibu kota Propinsi relatif pendek (45 Km), dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten bandung. Dengan demikian sebagian fungsi kota Bandung ditampung di wilayah Kabupaten Sumedang seperti pemukiman. Industri, pendidikan dan pertanian sebagai pengedia bahan pangan.


Iklim di Kabupaten Sumedang termasuk tipe Iklim C menurut Schmidth dan Ferguson, sedangkan curah hukan rata-rata pada tahun 1996 tercatat 2.301 mm dengan 129 hari hujan per tahun

Tofografi Kabupaten Sumedang bervariasi dari dataran di bagian Utara sampai berbukit di bagian Selatan dan Barat, Tinggi tempat diatas permukaan diatas permukaan laut berkisar antara 36 - 1500 m dpl.

Dengan topografi berbukit dan kemiringan tanah yang sangat bervariasi dan sangat dimungkinkan terdapatnya lahan kritis yang cukup luas. Dengan kondisi kemiringan tanah diatas, hasil indentifikasi kepekaan tanah terhadap erosi pada tahun 1996
Peka 3.946,90 Ha = 2,61 %
Agak Peka 13.793,29 Ha = 9,06%
Tidak Peka 134.461,79 Ha = 88,33 %


Kerajaan yang pertama kali berdiri di daerah ini bernama Tembong Agung. Tembong artinya mulai nampak, dan Agung artinya cita-cita luhur. Dengan demikian Kerajaan Tembong Agung berarti cita-cita luhur yang mulai nampak, Rajanya bernama Prabu Guru Hadji Adji Putih (Haji Purwa Sumedang)

Setelah Raja Haji Purwa Sumedang mangkat yakni pada abad XIII digantikan oleh puteranya bernama Prabu Tadjimalela dan nama kerajaannya diganti dari Kerajaan Tembong Agung menjadi

Kerajaan Hibar Buana yang artinya menerangi Alam, namun demikian dalam perjalannannya kerajaan itu berubah lagi menjadi Sumedang Larang, nama ini diilhami dari perkataan ” Insun Medal Medangan Larangan ” yang berarti ” aku dilahirkan di tempat yang mulia yang sarat dengan tantangan dan ujian dalam menuju ketingkat kemakmuran rakyat”. Pada akhirnya dalam catatan sejarah Sumedang Larang diproklamirkan oleh Pangeran Angkawijaya atau yang dikenal dengan Prabu Geusan Ulun pada tahun 1580 dan sejak itulah kerajaan ini dikenal kesetiap pelosok kota di Pulau Jawa.

Menjelang akhir tahtanya Prabu Geusan Ulun, muncul Kesultanan Mataram dengan membawa pengaruh dan perubahan di bidang sosial, ekonomi dan sistem pemerintahan. Oleh karena itu pemerintah Keprabuan (Kerajaan) diganti oleh sistem Pemerintahan Kabupaten hingga saat ini.


Potensi Unggulan Sumedang

A. SENI BUDAYA

1. Kuda Renggong

Yang menciptakan seni kuda renggong yaitu Sipan, dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Pada awalnya secara tidak disengaja, yaitu sekitar tahun 1910-an

Daya tarik yang terdapat dalam atraksi seni kuda renggong, antara lain keterampilan gerak Sang Kuda melakukan gerakan gerakan kaki, kepala dan badan mengikuti irama musik yang mengiringinya.
Hewan yang pandai menari, bergoyang, dan bersilat telah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan, mulai dari bupati, gubernur sampai mentri dan pejabat lainnya.


2. Seni tari

Atraksi Seni Tari yang ada di Kabupaten Sumedang terdiri dari berbagai jenis seni tari, yaitu :

PANCAWARNA
Tarian ini menggambarkan tentang seseorang yang (baru) telah mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup.


JAYENGRANA
Asal kata dari Jaya ing rana. Sebuah tarian yang menggambarkan kegembiraan Raja Amir Hamzah ketika ditolong oleh dua putri cantik: Dewi Sirtupulati dan Ratu Sudarawerti untuk dapat melepaskan diri dari tahanan Raja Banu.

GANDAMANAH
Menggambarkan seorang patriot bangsa yang memiliki sikap tidak angkung dan sombong. Ibarat ilmu padi makin berisi makin merunduk.


GATOTGACA GANDRUNG
Sebuah tarian yang menggambarkan ketika Gatotgaca cinta kepada Dewi Pergiwa Pergiwati. Tampaknya akibat mabuk kepayang sehingga Gatotgaca lengah. Dalam kondisi psikologis seperti ini maka dimanfaatkan oleh buta cakil untuk menyerangnya dengan leluasa.
Namun demikian, berkat kekuatan dan keampuhan ilmu yang dimilikinya, Gatotgasa bisa tetap unggul dalam pertarungan.


IBING SERIMPI
Menggambarkan lima orang putri di bawah pimpinan Nyi Mas Gilang Kencana ketika mengawal Prabu Geusan Ulun dan Permasurinya Nyi Mas Gedeng Waru terjadi clsh dengan pasukan Cirebon.


TOPENG KELANA
Menggambarkan Sang Dewi Sekar Kendoja berjuang menolong suaminya Rd. Gagak Pranda ketika menghadapi jurit dengan Barun.


3. Tarawangsa

Tarawangsa merupakan kesenian dari Kecamatan Rancakalong, pada awalnya Tarawangsa dilakukan setelah panen sebagai ucapan terima kasih pada DEWI SRI. sedangkan sekarang tarawangsa dilakukan kapan saja pada acara selamatan atau syukuran. Alat Instrumen yang digunakan pada tarawangsa berupa sebuah kecapi dan sebuah rebab. Penari biasanya sampai tidak sadarkan diri (kemasukan roh)


4. Rengkong

Tarian ini biasanya dilakukan setelah panen, sebagai rasa terima kasih kepada Dewi Sri. Selesai panen padi itu dahulu merupakan geugeusan = diikat) dibawa ke suatu tempat yang menjadi milik kepentingan bersama seperti Balai Desa atau Lumbung Desa. Iringan iringan itu didahului dengan membawa umbul-umbul kemudian disusul dengan pikulan yang merupakan iringan rengkong. Untuk keperluan itu, pikulan dibuat dari batang bambu yang diatur sehingga bila di gerakan setelah digantungi padi, maka dengan adanya gesekan tali kepada batang bambu itu menimbulkan suara yang berirama. makin banyak memikul makin meriah rengkng itu. Barisan rengkong di susul oleh pembawa alat-alat tatanen, dan paling belakang barisan angklung dan dogdog jojor.Tabuhan itulah yang paling memeriahkan suasana. Sesampainya di tempat yang dituju, barisan angklung dan dogdog


5. Tayub

Melihat asal-usulnya, tarian tayub muncul dari kalangan menak. Tetapi, sekarang bukan hanya para menak yang boleh menari dalam tayuban. Dahulu, menurut Enoch Atmadibrata, alasan tayuban disukai karena memperebutkan para penari yang disebut ronggeng. “Sayangnya, banyak kejadian yang menyinggung kesusilaan, misalnya berani menyelipkan uang ke dada ronggeng atau menggigit uang sambil berharap diterima oleh sang ronggeng dengan digigit lagi, tapi hal seperti itu sekarang tidak ada lagi. Tarian ini mengungkapkan kegembiraan.Gerakannya merupakan improvisasi. Secara spontanitas, penari tayub bisa menciptakan improvisatoris, tapi tetapsesuai dengan musik pengiring.

Tarian tayub bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Artinya, tarian tayub bukan tampilan tari yang memisahkan penonton dengan yang ditontonnya.Dalam tayub semua yang ada (para hadirin) bisa ikut menari walaupun sebenarnya tidak bisa. Dalam tarian tayub ada hal yang menyerupai tarian ketuk tilu., yaitu menghibur, penonton yang menari sambil ikut menari. Perbedaannya dalam prakteknya dan perlengkapan lainnya.Gerakannya merupakan improvisasi. Ada yang menyebutkan bahwa tarian tayub berasal dari tarian silaturahmi di kalangan para menak, sedangkan ketuk tilu di kalangan rakyat biasa.Ada yang menyebutkan bahwa tarian tayub berasal dari tarian silaturahmi di kalangan para menak, sedangkan ketuk tilu di kalangan rakyat biasa.


6. kecapi suling

Seni Kecapi Suling merupakan suatu kesenian tradisional dan merupakan salah satu ciri kahs kesenian Sumedang, dimana sesuia dengan namanya kesenian ini menggunakan alat kesenian dengan sebuah Kecapi dan Suling yang mengiringi penyanyi.



B. SITUS/PENINGGALAN

1. Cadas Pangeran

Bila memasuki kota Sumedang dari arah Bandung, pasti akan melewati Jalan Cadas Pangeran. Gugusan Gunung Batu yang dipisahkan oleh tebing yang curam dan terjal setinggi kurang lebih 150 m, telah menyimpan sejarah yang paling buram dan pahit. Ribuan rakyat Sumedang dihujani paksaan Belanda, dikenal dengan istilah kerja rodi (kerja siksaan) untuk membobok gunung batu sebagai terwujudnya poros jalan Anyer - Panarukan sebagaimana dicitacitakan Gubernur Jendral Herman Wiliam Daendels.
Saat ini lokasi Cadas Pangeran telah mendapat penataan, sehingga menjadi simpul wisata Kabupaten Sumedang, dimana suasana yang seram telah menjadi mengesankan dan ramah.


2. Makam Coet Nyak Dhien

Ada beberapa makam yang bersejarah yaitu : Makam Tjoet Nyak Dhien, Dayeuh Luhur, Prabu Gajah Agung, dan Marongge yang kesemuanya menyimpan sejarahnya masih-masing. Tjoet Nyak Dhien adalah pejuang wanita dari tanah Rencong Aceh terkenal paling keras menentang dominasi Kolonial Belanda, dan pada tahun 1906 tertanggkap oleh Belanda dan dibuang ke Sumedang. Beliau wafat pada tanggal 6 Nopember 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, letaknya tidak jauh dari Kantor Pemerintahan Sumedang.


3. Gunung Kunci

Bukit kecil yang ditumbuhi tanaman pinus ternyata memiliki sejarah yang unik. Disini terdapat sebuah Goa yang disebut GOA KOENTJI yang dibuat tahun 1917 oleh Belanda.
Di dalam goa tersebut terdapat lorong-lorong besar dan kecil yang menghubungkan kamar-kamar yang ada di dalam goa tersebut. Goa ini digunakan selain untuk pertahanan Belanda juga sebagai tempat tawanan dan gudang senjata.


4. Museum Prabu Geusan Ulun

Berdirinya Museum ini atas prakarsa Keluarga Pangeran Sumedang, didalamnya terdapat benda-benda pusaka peninggalan leluhur Sumedang seperti Mahkota Binokasih Sanghi Pake (terbuat dari emas murni) lambang kebesaran Raja-Raja Pajajaran, Kereta Naga Paksi (terbuat dari besi baja dan perak dengan ukiran khas Sumedang Cirebon) yang digunakan oleh Raja-raja Sumedang dahulu, Senjata-senjata perang Belanda masa dulu dan benda -benda pusaka lainnya. Pada tahun 1974 nama museum ini diganti damanya menjadi Museum Prabu Geusan Ulun, bentuk bangunan tidak mengalami perubahan dan sangat artistik


5. Dayeuh Luhur

Obyek Wisata Ziarah, terdapat makam leluhur Sumedang (Prabu Geusan Ulun, raja terakhir Sumedang Larang, Ratu Harisbaya sebagai istri ke tiga dan Embah Jaya Perkosa sebagai patihnya terletak di puncak pegunungan yang keadaan alam dan udaranya masih asli dan sejuk, berada di Desa Dayeuh luhur Kecamatan Ganeas. Prabu Jaya Perkosa tokoh ini sangat di kenal oleh masyarakat khususnya Orang Sumedang, tokoh ini telah membawa kebesaran Sumedang pada waktu itu ketika Sumedang berususan/sengketa dengan kerajaan Cirebon di karenakan Putri Harisbaya. Dalam hal ini merupakan satu ciri atau kisah tersendiri bagi masyarakat Sumedang dan bisa di katakan suatu tanda kejayaan Sumedang yang harumnya dikarena seorang tokoh yang sangat punya kesaktian dan andalan Sumedang Larang pada waktu itu


Kisah Hanjuang

Eyang Jaya Perkosa sebagai senapati terakhir sebelum runtuhnya kerajaan Pakuan Padjajaran, berhasil menyelamatkan Mahkota Kerajaan (Binokasih) serta atribut kerajaan lainnya dan diserahkan kepada raja Sumedang Larang dan sejak saat itu penyerahan mahkota tersebut beliau menjadi Senapati Kerajaan Sumedang Larang. Persoalan Putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun menjadikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang, sehingga Cirebon mengirim pasukannya menyerang Kutamaya.

Namun pasukan Cirebon tidak berhasil mencapai sasarannya karena dihadang oleh pasukan Sumedang Larang yang berada dibawah pimpinan Senapati Eyang Jaya Perkosa.

Konon sebelum Eyang Jaya Perkosa pergi menghadang pasukan Cirebon, beliau menanam pohon Hanjuang di Kutamaya dan meninggalkan amanat : ” Jika Pohon hanjuang ini masih segar, menandakan aku masih hidup dan jangan tinggalkan Kutamaya”.

Syahdan menurut cerita pada saat pertempuran, Eyang Jaya Perkosa terpisah dari ketiga saudaranya yang turut dalam pertempuran itu.

Salah satu dari saudaranya yang bernama Nangganan, menduga bahwa Eyang Jaya Perkosa telah gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga mereka memutuskan kembali ke Kutamaya untuk menyarankan kepada Pangeran Geusan Ulun agar memindahkan pusat Pemerintahan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur sebagai basis pertahanan yang sangat strategis.

Penyerahan daerah Sindangkasih (Majalengka) sebagai pembayaran talak kepada raja Cirebon serta perkawinan putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun telah mendamaikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang.

Senapati Eyang Jaya Perkosa yang kembali dari medan perang menemukan Kutamaya telah di tinggalkan.Tentu saja beliau sangat menyesalkan tindakan Pangeran Geusan Ulun dan sesampainya di Dayeuh Luhur beliau membunuh Nangganan, saudaranya atas kesalahannya itu.

Konon kekecewaan Eyang Jaya Pekosa yang sebenarnya adalah harapan untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Pakuan Padjajaran melalui kerajaan Sumedang Larang telah gagal.

Sementara pohon Hanjuang yang ditanam oleh Eyang Jaya Perkosa sampai saat ini masih tumbuh subur di Kutamaya (ds. Padasuka Kecamatan Sumedang Utara).

Dendam dan kebencian terhadap musuh juga diisyaratkan kepada keturunannya kelak apabila berziarah ke makamnya dilarang berpakaian BATIK yang menurut pendapatnya sebagai ciri khas pakaian musuh-musuhnya.

Sumber : Babad Sumedang, Waruga Jagat


6. Marongge

Tempat makam tilemnya Embah Gabug dan saudara-saudaranya/adiknya yaitu : Embah Setayu, Embah Naibah dan Embah Naidah. Menurut cerita ke-4 (empat) putri ini sangat cantik tatkala banyak orang/raja-raja pada waktu itu yang ngin mempersuntingnya karena ke-4 (empat) putri itu sangat cantik, namun selalu gagal karena mereka tidak sanggup mengalahkan kesaktian Embah Gabug. Obyek Ziarah Marongge terletak di Desa Marongge Kecamatan Tomo, jaraknya ± 4 km dari Jalan Raya Bandung Cirebon. Setiap saat banyak dikunjungi terutama pada Jum’at keliwon dengan maksud dan tujuannya untuk meminta barokah dari Embah Gabug dan saudara-saudaranya


7. Situs Tembong Agung

Kerajaan Tembong Agung yang pusat Pemerintahannya di Leuwi Hideung (Ds. Leuwi, Hideung Kc. Darmaraja) masa itu berada di bawah kekuasaan Prabu Guru Aji Putih (1472 M - 1482 M) merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Di kampung Kondang, Desa Muhara/Leuwi Hideung kecamatan Darmaraja dapat ditemukan petilasan Kerajaan Tembong Agung, berupa pohon Kiara Bunut. Konon pohon ini terletak di tengah Alun-alun Kerajaan dan diperkirakan telah berusia 600 tahun. Situs ini akan terendam Jika Pembangunan Waduk Jati Gede Selseai dibangun


8. Gunung Tampomas

Gunung Tampomas merupakan gunung tertinggi diKabupaten Sumedang pemandangan yang indah dan gunung ini masih tetap alami dan merupakan tempat mendaki bagi yang hoby berpetualang naik gunug.

Konon di Tempat ini pernah dipakai peristirahatan (semedi/paseban) Prabu Siliwangi Raja Pakuan Padjajaran.



C. OBYEK WISATA

1. Curug Cipongkor
Curug Cipongkortak kurang punya rasa indah dari kekayaan alam yang dianugrahkan oleh tuhan yang bisa memberi kesan menentramkan bagi manusia yang mengunjungi air terjun sangat menarik serta lingkungan alam sekitarnya yang masih alami.Wilayah ini masih dikatakan masih terjaga kelestrarian alamnya sehinga sangat menarik bagi pengunjung. Untuk menuju ke lokasi ini harus berjalan kaki sepanjang 3 km. Lokasinya terletak di Desa Ciberang kecamatan Sumedang Selatan.


2. Gunung Lingga
Obyek Wisata terletak di Desa Cimarga Kecamatan Cisitu, . Di sini terdapat makam/petilasan Prabu Tajimalela. Prabu Tajimalela adalah Raja Sumedang Larang yang ke dua letaknya di puncak pegunungan yang keadaan alam dan udaranya masih asli dan sejuk dari tempat ini kita dapat melihat jauh ke sebelah barat laut akan terlihat wilayah Kecamatan Darmaraja yang konon tempat Ibu Kota Kerajaan Sumedang Larang yang pertama kali didirikan oleh Ayah handa Prabu Tajimalela yaitu Prabu Guru Aji Putih.

Peninggalan dari Prabu Tajimalela adalah situs batuan menhir yang terdapat dipuncak Gunung Lingga, desa Cimarga, kecamatan Cisitu. Di tempat ini Prabu Tajimalela NGAHYANG atau menghilang setelah takhta kerajaan Sumedang Larang diwariskan kepada putranya yang bernama Prabu Gajah Agung. Petilasan ini terletak di Gunung Lingga Desa Cinarga Kecamatan Cisitu, jaraknya ± 12 km dari Ibu kota Kecamatan dengan menggunakan kendaraan bak terbuka, dan untuk menempuh lebih lanjut harus berjalan kaki dari Cimarga dengan menempuh jarak 2 km.


3. Cipantenen
Kolam Renang Alam yang sudah di modipikasi dengan dilengkapi oleh sarana penunjang lainnya, sehingga sangat cok untuk tempat rekreasi. Obyek wisata Alam ini tempatnya terletak di Desa Licin kurang lebih satu kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Cimalaka. Lokasi tempat berhibur ini sangat mudah dukunjungi karena kendaraan umum banyak yang melewati pada areal pemandian Alam ini. Dari arah terminal Ciakar Sumedang anda hanya naik satu kali dengan kendaraan umum untuk mencapai lokasi Pemandian ini.


4. Curug Sindulang
Di Sumedang terdapat 5 buah curug yaitu: Curug Sindulang, Curug Cipongkor, Curug Sabuk, Curug Cibuluh dan Curug Tirta Buana. Kesemua curug tersebut mempunyai keistimewaan masing-masing sebagai daya tarik tersendiri. Curug Sindulang merupakan curug kembar yang berketinggian kurang lebih 30 m, dengan hawanya yang sejuk dan pemandangan alam yang indah. Curug sindulang terletak di Desa Sindulang Kecamatan

Cimanggung, dapat dilalui kendaraan. Akan lebih mudah ditempuh apabila menggunakan lintas jalan Cicalengka (Bandung) dengan jurusan Cicalengka Leuwiliang.


5. Cipanas Conggeang
Cipanas Conggeang merupakan objek wisata Air Panas yang terletak di Desa Sekarwangi Kecamatan Buahdua dengan jarak kurang lebih 18 Km dari kota Sumedang. Objek wisata Air Panas ini mempunyai khasiat bagi penyembuhan penyakit kulit, sering didatangi pengunjung untuk berobat sekalian menikmati kesejukan iklimnya dan keindahan pemandangannya. Untuk para penginap telah disediakan Cottage dan kamar mandi air panas.


6. Kampung Toga
Kampung Toga terletak di desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan. Kampung Togamerupakan tempat untuk melepaskan lelah yang disekelilingnya dipenuhi dengan tumbuhan obat-obatan dari sana kita bisa memandang kota sumedang.



D. POTENSI UNGGULAN LAINNYA

1. Ubi Cilembu
Ubi jalar Nirkum merupakan salah satu komoditas pertanian yang dijadikan produk unggulan. Ubi jalar ini memiliki rasa yang khas (manis, legit) itu hanya ada di desa Cilembu Kecamatan Tanjungsari bersebelahan dengan lokasi Perguruan Tinggi Jatinangor. Sehingga terkenal dengan sebutan UBI CILEMBU
Areal tanaman yang cocok untuk ubi jalar nirkum di Desa Cilembu saat ini sekitar 100 Ha. Dimana setiap hektar lahan, hanya mampu menghasilkan ubi sebanyak 10 ton dengan lokasi berada di 4 blok yaitu Blok Sawah Lebak, Citiali, Sawah Lega dan Sawah Legok. Sedangkan permintaan perharinya hampir mencapai 23,78 ton


2. Salak Bongkok
Salak Mukti dari desa Bongkok yang berbatasan antara Kecamatan Paseh dan Conggeang dilihat dari segi rasa lebih bervariasi, ada rasa manis, asem manis, asem dan kesat.
Pada umumnya Salak Bongkok banyak dijual di pinggir jalan Negara antara Kecamatan Paseh dan Kecamatan Cimalaka ataupun di tempat lokasi ke arah Conggeang sekitar 2 Km


3. Tahu
Jenis makanan yang sangat menonjol dan telah dikenal di pulau jawa adalah Tahu Sumedang yang terbuat dari kacang kedele dengan campuran yang khas Sumedang. Pedagang tahu matang di Kota Sumedang cukup banyak yaitu sekitar 12 pedagang yang ternama.
Home industri pembuat tahu mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan ke arah pabrikan


4. Sale
Jenis makanan yang sangat menonjol dan telah dikenal di pulau jawa adalah Tahu Sumedang yang terbuat dari kacang kedele dengan campuran yang khas Sumedang. Pedagang tahu matang di Kota Sumedang cukup banyak yaitu sekitar 12 pedagang yang ternama.
Home industri pembuat tahu mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan ke arah pabrikan


5. Ukiran Kayu
Ukiran dan lukisan pada kayu di Kabupaten Sumedang menjadi salah satu komoditas yang unik serta mempunyai ciri khas tersendiri.
Ukiran pada kayu ini tidak terbatas pada perabotan rumah tangga saja tapi juga pada sarana bangunan perkantoran dan perumahan.

Sampai saat ini pasaran ukiran kayu ini selain di dalam negi juga sudah dipasarkan ke manca negara patung Asmat pun sudah dapat dibuat disini.


6. Senapan Angin
Senjata seperti bedil, pistol dan sebagainya, merupakan sarana perang yang umumnya dimiliki kalangan militer. Akan tetapi bagi pengrajin sarana tersebut telah menjadi dasar intuisi terhadap kelahiran Kerajinan Senapan Angin, sebagai sarana olah raga atau olah raga menembak. Potensi industri kerajinan tersebut paling menonjol di daerah Cipacing Kecamatan Cikeruh. Jarak dari kota Bandung kurang lebih 17 Km, dari kota Sumedang berjarak 28 Km. Hasil produksi tersebut telah menjamah ke setiap kota di tanah air, bahkan diekspor ke luar negeri.


HOTEL

Hotel Puri Mutiara

Potensi penyediaan Akomodasi dalam menunjang Pariwisata Sumedang mempunyai peluang yang sangat besar dimasa yang akan datang

Pada saat ini di Kabupaten Sumedang telah memiliki lebih dari 18 buah hotel dan penginapan dengan kelas dan fasilitas yang beraneka ragam untuk menunjang bila bendungan Jatigede selesai dikerjakan

Sebagai Informasi Hotel yang ada di Kabupaten Sumedang (daerah kota):

Hotel Puri Muriara, Jl. Prabu geusan Ulun No. 22 Tlp (0261) 202 102
Hotel Murni, Jl. Prabu Geusan Ulun No. 188 Tlp (0261) 201 139
Hotel Hegarmanah, Jl Mayor Abdurachman 165 Tlp (0261) 201 820
Hotel Kencana Jl. Pangeran Kornel Tlp (0261) 201 642
Hotel Sutra, Jl Mayor Abdurachman 172 Tlp (0261) 201 742


Sumber :
Wawan Supriadi
http://sosbud.kompasiana.com/2009/12/12/sumedang/
14 Juni 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar