Senin, 14 Juni 2010

Kabupaten Sumedang



Kabupaten Sumedang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumedang, sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di Utara, Kabupaten Majalengka di Timur, Kabupaten Garut di Selatan, Kabupaten Bandung di Barat Daya, serta Kabupaten Subang di Barat.

Kabupaten Sumedang terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Sumedang, ibukota kabupaten ini, terletak sekitar 45 km dari Kota Bandung. Kota ini meliputi kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Sumedang dilintasi jalur utama Bandung-Cirebon.

Bagian Barat Daya wilayah Kabupaten Sumedang merupakan kawasan perkembangan Kota Bandung. IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), sebelumnya bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), serta Universitas Padjadjaran berlokasi di Kecamatan Jatinangor.

Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.684 m), berada di Utara Sumedang.


Sejarah

Pada mulanya Kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Sumedang Larang (Sumedang berasal dari Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan, dan larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya).

Sumedang Larang mengalami masa kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angka Wijaya dan Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi wilayah Selatan sampai dengan Samudera Hindia, wilayah Utara sampai Laut Jawa, wilayah Barat sampai dengan Ci Sadane, dan wilayah Timur sampai dengan Kali Pamali.

Kerajaan ini kemudian menjadi vazal Kesultanan Cirebon, dan selanjutnya berada di bawah kendali Kesultanan Mataram, di masa Sultan Agung. Pada masa Mataram inilah teknik persawahan diperkenalkan di tanah Pasundan dan menjadi awal istilah "gudang beras" untuk daerah antara Indramayu hingga Karawang/Bekasi. Dalam strategi penyerangan Sultan Agung ke Batavia wilayah Sumedang dijadikan wilayah penyedia logistik pangan. Selain itu, aksara Hanacaraka juga diperkenalkan di wilayah Pasundan pada masa ini, dan dikenal sebagai Cacarakan. Pusat kota Sumedang juga dirancang pada masa ini, mengikuti pola dasar kota-kota Mataraman lainnya. Sebelum Bandung dibangun pada abad ke-19, Sumedang adalah salah satu pusat budaya Pasundan yang penting.

Ketika Pakubuwono II harus memberikan konsesi kepada VOC, wilayah kekuasaan Sumedang diberikan kepada VOC, yang kemudian dipecah-pecah, sehingga wilayah Sumedang menjadi seperti yang sekarang ini.

Pangeran Aria Soeriaatmadja (bupati Sumedang di tahun 1882 – 1919), juga dikenal dengan julukan "Pangeran Mekkah", karena wafat di Makkah

Sumedang mempunyai ciri khas sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun-alun sebagai pusat yang dikelilingi Mesjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan dipersembahkan untuk Pangeran Aria Soeriaatmadja atas jasa-jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang. Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922 oleh Gubernur Jenderal Mr. Dr. Dirk Fock Sampai saat ini Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Sumedang
15 Juni 2010


Sumber Gambar:
http://www.sumedangdailyphoto.com/2009/11/tugu-selamat-datang-sumedang.html

Peta Sumedang


View Larger Map

Profil Kabupaten Sumedang

Kabupaten Sumedang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumedang. Kabupaten Sumedang secara geografis terletak antara 6512 353 Lintang Selatan dan 107552 153 Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Sumedang sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Indramayu, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Majalengka, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Subang sedangkan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Garut. Luas wilayah Kabupaten Sumedang 1.522,21 km2. Kabupaten Sumedang terbagi menjadi dua puluh enamkecamatan dan 277 desa/kelurahan.

Perkembangan Kabupaten Sumedang masih didominasi oleh pertanian, khususnya tanaman pangan padi. Daerah penghasil utama padi terkonsentrasi di Kecamatan Darmaraja, Wado, Ujungjaya, Conggeang, dan tanaman Buahdua. Diluar padi, produk unggulan lainnya adalah jagung, pisang, kacang gondolo, kencur, dan jeruk.

Kabupaten ini juga memiliki hasil pertanian khas lokal yaitu ubi cilembu. Ubi ini cukup terkenal bagi mereka yang kerap melakukan perjalanan ke berbagai tempat wisata baik di sepanjang jalan ciawi menuju sukabumi, ciawi memnuju puncak, atau berbagai jalan menuju lokasi wisata di sekitar bandung. Ubi ini hanya cocok tumbuh di tanah Kecamatan Tanjung sari. Selain ubi, daerah Sumedang Selatan juga menghasilkan jeruk Cikoneng, sawo semir, salak bongkok, dan pisang. Terakhir, kondisi tanahnya yang berbukit-bukit bisa dimanfaatkan menjadi lahan tanaman obat-obatan sekaligus wisata kesehatan.

Tahu sumedang merupakan makanan ciri khas dari kabupaten ini. Saking terkenalnya makanan ini tidak hanya terdapat di sumedang tapi juga dikota-kota lain. Selain tahu, kabupaten sumedang, tepatnya di daerah yang disebut jatinangor, dikenal juga sebagai pusat pendidikan. STPDN, Ikopin, Universitas Wiyata Mukti, dan Unpad adalah empat perguruan tinggi negeri dan swasta yang berada di Jatinangor.

Kabupaten ini juga menghasilkan barang-barang kerajinan tangan yang khas seperti wayang golek dengan berbagai tokohnya (semar, cepot, gareng, dawala, rama, shinta), alat musik angklung, kendang, panah, tombak, hiasan dinding berbentuk cecak dan kepala orang indian hingga patung asmat.


Sumber Data:
Jawa Barat Dalam Angka 2007
(01-7-2007)
BPS Provinsi Jawa Barat
Jl. PHH Mustapa No. 43, Bandung 40124
Telp (022) 7272595, 7201696
Fax (022) 7213572


Sumber :
http://regionalinvestment.com/newsipid/displayprofil.php?ia=3211

Potensi Ekonomi Kabupaten Sumedang

Kabupaten Sumedanag adalah salah satu kabupaten yang berada di bawah pemerintahan Propinsi Jawa Barat. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.522,2 Km2 dengan 26 kecamatan yang ada di dalamnya. Jumlah populasi yang ada mencapai 1.091.674 dimana 545.740 jiwa adalah wanita dan 545.934 jiwa adalah pria. Struktur pendidikan masyarakat setempat tidak berbeda jauh dengan kabupaten lain yang ada di Jawa Barat. Sekitar 2,1 persen penduduknya yang menikmati pendidikan tinggi. Mereka yang telah lulus pendidikan SLTA hanya 11,5 persen.

Pertanian adalah mata pencaharian utama penduduk Kabupaten Sumedang. Daerah ini terkenal dengan hasil padi. Jumlah produksi padi di Sumedang mencapai 408.643 ton dimana hasil padi sawah mencapai 388.981 ton sedangkan hasil padi ladang mencapai 19.622 ton pada tahun 2006. Produksi padi menyebar secara merata di semua kecamatan. Kecamatan penghasil padi sawah terbanyak adalah Kecamatan Buahdua dan Cinggeang. Sedangkan penghasil padi ladang terbesar berasal dari Kecamatan Jati Gede dan Tomo.

Selain itu Sumedang juga penghasil palawija. Jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang hijau, kedelai dan kacang tanah juga ada di dalamnya. Produk palawija terbesar adalah jagung dengan jumlah panen pada tahun 2006 mencapai 44.600 ton. Produk jagung banyak terdapat di Kecamatan Tanjung Sari dan Cibogel. Adapun produk palawija lainnya yang juga memiliki hasil melimpah adalah ubi kayu. Produk ini banyak dihasilkan dari Kecamatan Cibogel dan Jati Nunggal.

Kabupaten ini juga kaya akan sayuran. Mulai dari cabe merah, bawang merah sampai dengan cabe rawit terdapat di sana. Produk sayuran terbesar adalah kubis dan ketimun. Panen kubis pada tahun 2006 mencapai 74.410 ton dan ketimun mencapai 33.004 ton. Kubis banyak terdapat di Kecamatan Asukasari dan Pamulihan. Sedangkan ketimun banyak terdapat di Ujung Jaya dan Sumedang Utara.

Sumedang juga kaya akan buah-buahan, perkebunan dan juga peternakan. Produk buah terbanyak adalah pisang dan salak. Output pisang mencapai 99.369 ton yang terkonsentrasi di Kecamatan Buahdua dan Paseh. Sedangkan salak banyak terdapat di Conggeang.

Ternak besar terdiri dari Sapi, Sapi Perah, Kerbau dan Kuda. Ternak Sapi lebih disukai dari pada ternak lainnya. Populasi Sapi di Sumedang mencapai 29.840 ekor. Sapi banyak terdapat di Kecamatan Jatigede, Jatinunggal dan Pamulihan. Untuk ternak kecil, Domba lebih disukai dari pada Kambing. Populasi Domba merata hampir di semua Kecamatan. Domba terbanyak terdapat di Cimanggung dan Pamulihan. Untuk ternak unggas, Ayam Buras lebih di sukai dari pada Ayam Ras dan Itik. Populasi Ayam Buras mencapai 956.980 ekor.

Untuk perkebunan, Sumedang merupakan daerah penghasil banyak jenis tanaman kebun seperti aren, cengkeh, jahe, kelapa dalam, kelapa hibrida, kapuk, lada kopi, melinjo, tebu dan tembakau. Jenis perkebunan yang menghasilkan output terbesar adalah kelapa dalam dan tembakau. Output kelapa dalam rata-rata pertahun berkisar 15.476 ton. Sedangkan tembakau mencapai 16.704 ton. Kelapa dalam terdapat hampir di semua kecamatan sedangkan tembakau banyak terdapat di Kecamatan Jatigede.

Kontribusi ekonomi terbesar yang ada di Sumedang berasal dari sektor perdagangan, hotel dan restoran. Kontribusi sektor ini mencapai 27 persen dengan nilai ekonomi mencapai Rp 1,2 trilyun. Adapun kontribusi PDRB dari lainnya berasal dari sektor industri. Kontribusi sektor ini mencapai 16 persen dengan nilai ekonomi mencapai lebih dari Rp 766 milyar. Industri besar banyak terdapat di Cimanggu. Cimanggu merupakan lokasi strategis untuk industri karena letaknya yang berbatas dengan kabupaten Bandung. Untuk industri berskala kecil dan sedang banyak terdapat di Kecamatan Tanjungsari. Kecamatan ini juga menjadi pusat industri kecil dan sedang
karena lokasinya berbatasan dengan Kabupaten Bandung.

Sumber :
http://www.cps-sss.org/web/home/kabupaten/kab/Kabupaten+Sumedang
15 Juni 2010

2010, Sumedang (Hampir) Bangkrut

Oleh : Zenni Muryaman*

Bila kita umpamakan sebuah kapal laut, Pemkab Sumedang menghadapi masalah yang sangat luar biasa, selain ombak menggulung deras dan menerpa badan kapal, penumpangpun resah dengan segala macam keresahannya. Perumpaan ini bisa jadi masih kurang ekstrim bila kita melihat kondisi reel sebenarnya.

Untuk membuktikan ini, mari kita tengok Kebijakan Umum Anggaran (KUA) Plafond dan Prioritas Anggaran Sementara (PPAS) 2010 yang sedang digodok, tidak tanggung-tanggung, defisit melampaui angka 90 Milyar!! angka yang sebelumnya belum pernah terjadi sepanjang sejarah sumedang berdiri. Memang, setiap KUA-PPAS keluar setiap tahunnya selalu terjadi Defsiit, namun defisit tersebut bisa ditutupi dengan Sisa Lebih Perhitungan Tahun Anggaran Sebelumnya (Silpa) atau sedikti menurunkan Pos Belanja Langsung (Publik).

Namun sekarang, prakiraan pendapatan tahun 2010 yang mencapai 963,3 Milyar hanya untuk membayar Belanja Tidak Langsung (Gaji, bunga, Bansos, Bantuan kepada Desa, Belanja bagi hasil dan Pos Belanja tak terduga) terasa berat, Hasil dari itu menyisakan uang sebesar 195,2 Milyar (Belanja Tidak Lasung sebesar 767,8 Milyar). Lalu beban tetap lainnya seperti kegiatan yang bersumber dari Dana Alokasi Khsusus (DAK) yang tidak boleh di ‘coceng’ sedikitpun sebesar 66, M, Hasil retribusi RSUD yang juga WAJIB dikembalikan kepada RSUD sebesar 58 Milyar. Nah, dikurangi dua belanja tersebut Pendapatan diatas bersisa 71 Milyar. Selesaikah beban Belanja tetap kita? Belum. Kita juga masih harus (Wajib) menyiapkan dana untuk Bayar Pokok Hutang sebesar 6,2 Milyar, Pendamping DAK dan Biaya Penunjang/Pendamping dari Pusat/Provinsi 12 M. Dari dua itu, sisa pendapatan hanya 7,1 M.

Kabar PIK

Lalu, dimana letak Belanja Kegiatan untuk SKPD/SOPD, yang didalamnya ada Pagu Indikatif Kewilayahan/Kecamatan (PIK), yang berdarah-darah dirundingkan dari perencanaan di level paling rendah (Dusun, Desa, Kecamatan, Forum SKPD, dan Musrenbang Kabupaten), yang dianggap hasil dari sebuah perencanaan yang paling baik di Indonesia, yang memberikan ruang kepada warga untuk merundingkan kegiatan untuk dirinya sendiri dengan disiapkan potensi pendapatan ‘yang pasti’ dari pemkab. Jawabnya ‘Nyaris Tak Terlihat !!”. Belanja untuk ini (Belanja Langsung) pada tahun 2009 ini disiapkan sebesar 286 Milyar, sedangkan tahun depan (2010) hanya 65,9 M setelah dikurangi dari DAK dan RSUD. Turun 129 % dari tahun 2010. Dari dana tersebut (65,9 M) harus bisa “sacukup-cukupna” untuk membiayai Belanja Kegiatan dan Program (Dulu, Administrasi umum) dan Belanja Urusan Wajib dan Pilihan di Setiap Dinas, Badan, Kantor dan lembaga lainnya. Di belanja Urusan Wajib/Pilihan ini ada PIK sebesar 31,75 M. Nah, dari angka itu pernyataan saya tentang PIK saya ralat menjadi ‘PIK sudah tenggelam’ bukan ‘Nyaris tak Terlihat’ lagi.

Saya sebagai fasilitator musrenbang dari berbagai tingkatan, sepertinya perlu berpikir ulang untuk menjadi fasilitator kembali pada tahun 2010 nanti. Karena terbayang cercaan dan makina dari peserta. Apalah gunanya proses musrenbang di tata dengan baik, bila kita kembali ‘berbohong’ kepada rakyat dengan tidak jelas PAGU yang dirundingkan. Bukan kah ini yang menjadi istimewa musrenbang di sumedang? Bila tidak ada lagi kejelesan pagu dalam musrenbang, Sumedang mundur dua hingga 3 langkah ke belakang. Sistem perencanaan yang selalu dibanggakan dan dijadikan ‘pangjugjugan’ beberapa kabupaten/kota hanya tinggal kenangan. Ok, bahwa ini hanya pagu indikatif, tetapi bila melencengnya terlalu ektrim, bukan kah itu bisa disebut perencanaan yang dangkal/buruk, Prediksi/Indikasi yang baik adalah predisik/indikasi yang bisa lebih dekat dengan kenyataan. Kesimpulannya, Pertahankan PIK. Karena dengan PIK, sumedang bisa bangga di tengah defisit melanda. Lebih jauh Pemkab masih punya harga diri ketika nanti berhadapan kembali dengan warga.

Penyebab

Ada kemiripan antara Don Murdono (DM) dengan SBY, sama-sama sudah dua kali memimpin, dan sama-sama tidak punya kesempatan lagi untuk memimpin ketiga kalinya. Dengan kondisi ini DM, tidak perlu lagi pencitraan, nama baik, dan ngotot untuk selalu tampil di depan umum, bahkan untuk memperhatikan partainya sendiri, dengan membuat Kantor PDIP yang representative saja contohnya setelah 6 tahun lebih belum juga terwujud. Kantor DPC PDIP di sekitar gunung puyuh terlihat kumuh tak terurus, tak tampak ada kegiatan sebuah partai terbesar di sumedang dengan 13 Kursi ini. DM dengan sikap selalu menahan diri, tidak meledak-ledak, kritikan di lawan dengan senyum (Kritik dilawan dengan kritik, data di lawan dengan data, tidak berlaku bagi DM), siapapun yang pernah bertatap muka (berkomunikasi) dengan DM pasti menyimpulkan bahwa DM ramah, begitu juga dengan penilaian penulis. Kelebihan DM lainnya sangat akomodatif, ide-ide bawahan yang dapat diterangkan secara sederhana sekalipun akan di apresiasi secara baik, walau kadang Akomadatifnya berlebihan.

Namun tidak cukup dengan ramah dan menebarkan senyum. DM banyak dianggap pemimpin yang tidak ber-Visioner kuat, dan bukan ‘Strong Leadership”. Bila anda berharap keluar dari mulut DM kebijakan yang radikal dan progresif (contoh Bupati Jembrana dengan peningkatan layanan Publiknya, Bupati Sragen dengan Layanan Satu pintunya, Walikota Solo dengen penanganan PKL-nya) sepertinya sulit berharap. DM lebih senang bermain aman, terlebih di periode keduanya, yang dominan tentu saja orang-orang di sekelilingnya, baik itu dari lingkaran Birokrasi, orang dekat (atau yang ‘merasa’ dekat), saudaranya, hingga jaringan partainya. Dengan sikap akomodatif berlebihan, ditambah dengan dengan percaya saja dengan apa yang dilaporkan, maka ketika menghadapi defisit ini tidak terlihat disikapi secara serius, setidaknya dengan beberapa statement untuk menjelaskan kepada warga lewat Pers tidak hanya di gedung DPRD saja. Penulis tidak yakin DM sadar dengan Kondisi keuangan 2010 yang sudah di ujung jurang.

Dengan akomodatif yang berlebihan ini, maka struktur Organisasi perangkat daerah (OPD) dibiarkan gemuk dan banyak tak berfungsi, Sukwan siluman dibiarkan bergetayangan, banyak orang tidak jelas keperluan dan kepentingannya bebas berkeliaran di sekelilingnya, kedisiplinan pegawai sangat rendah (bahkan penegakan pun rendah).

Solusi

Ada banyak cara untuk menghindar setidaknya mengurangi defisit ini, tentu saja tidak bisa dengan cara-cara konpensional, dengan ditutupi oleh Silpa dan pengurangan belanja langsung, karena bila ini saja yang dilakukan, tahun-tahun ke depan kesulitan ini akan berulang, bahkan mungkin lebih parah. Perlu ada kebijakan radikal, berani. Justru dengan tidak butuh pencitraan lagi, DM harus berani mengeluarkan kebijakan Radikal itu. Apa saja?

Reformasi Birokrasi

Pertama, Rubah struktur SOPD yang ada, Dinas, Badan, dan Kantor yang tidak efesien yang bisa diurus oleh sebuah Kasubid/Kasubag dilebur saja. Contoh Dinas SOPD yang tidak efektip (dapat diartikan, ada atau tidak ada sama saja) adalah Kantor Arsip dan Kantor Perpustakaan gabung dengan Setda, Dinas Pertambangan gabung dengan Badan Lingkungan Hidup, Badan Penyuluh dan Dinas Peternakan/Perikanan gabung dengan Dinas Pertanian, Dinas Pemberdayaan Perempuan gabung dengan dengan Dinas KB dan Kependudukan, Badan Penanaman Modal gabung dengan Dinas Perdagangan dan Industri. Kesimpulannya, SOPD cukup yang dapat merangkum, rumpun Pertanian/Kehutanan, Kesehatan, Pendidikan, dan Pelayanan Kependudukann/Administrasi.

Kedua, Kaji secara benar, kebutuhan Birokrasi sebenarnya, berapa yang efektip dan tidak, Siapkan Job Tender/Kontrak kerja. Yang tidak efesien keluarkan saja, beri pesangon yang layak. Dengan Kontrak kerja/Job Desk setiap orang Jelas melakukan apa dan menghasilkan apa, Kerja dari day to day, week to week, month to month, hingga akhir tahun disusun secara benar dan terukur. Contoh buruk di bidang ini adalah tidak meratanya guru di pelosok-pelosok, padahal dari itung-itungan guru sudah berlebih. Contoh Guru Sekolah Dasar (SD) PNS sekarang ada sekitar 7.000-an dengan jumlah SD 605 maka setiap SD sudah memiliki rata-rata 11,5 guru. Idealnya setiap SD memiliki 1 Kepsek, 6 Guru kelas, masing-masing 1 guru untuk Guru Agama dan Olahraga, sehingga jumlah ideal 9 orang guru/SD. Belum ditambah 4 orang sukwan, hasil dari pembagi 2.814 orang sukwan guru dibagi 605 orang (Korsum Edisi 128 Minngu III 2009). Tentang kebutuhan Kompetensi, sekolahkan birokrasi yang ada, kebutuhan kompetensi tidak harus dijawab dengan meminta tambahan pegawai. Bila perlu Stop dulu penerimaan CPNS menunggu hasil kajian kebutuhan Birokrasi oleh pihak independen.

Ketiga, Pecat tenaga siluman, tenaga kerja yang memakai baju CV dengan tidak jelas Peraturan yang mengangkatnya, yang hanya memberatkan keuangan pemkab (karena pada dasarnya walau tidak dianggarkan tetap memberatkan) keluarkan saja, terlebih dengan harapan kosong justru menambah penderitaan bagi mereka. SOPD yang bandel dengan mengangkat tenaga sukwan (yang konon harus memakai uang 5 hingga 10 juta per orang) tindak dengan tegas. Bila mau, sangat mudah untuk melihat mana SOPD yang bandel atau tidak. Anda bisa lihat di Kantor Arsip, kantor kecil dengan minim aktifitas harus dijejali dengan beberapa sukwan baru yang selalu muncul.

Keempat, Jual Asset, Pemkab Tasikmalaya beberapa waktu yang lalu melelang kantor setda, sebuah pasar, dan eks pasar Cilembang untuk menutupi defisitnya (Harian Umum Priangan edisi Selasa 20 Oktober). Tidak dengan terburu-buru meminjam atau mendahulukan gaji pegawainya (Kab. Serang menunda gaji Desember 2009 ke Januari 2010). Defisit kali inipun bisa dikurangi dengan menjual asset yang ada, tentu saja asset yang sudah tidak berfungsi. Sekedar melihat contoh, ada Pasar tolengas, terminal Rancapurut dan beberapa kantor kosong lainnya.

Kelima, Kaji ulang struktur KUA APBD 2010, masih ada banyak peluang pengurangan anggaran yang tidak efektip. Seperti, Accres (penambahan nilai toleransi dari total gaji) gaji pegawai yang sebesar 2,5 %, cukup kita kasih 1% saja, Dana tak terduga yang tadinya 1,5 M, cukuplah 500 juta, Tunjangan Penghasilan PNS sebesar 27 M (karena sudah ada gaji yang naik 5% dan Honor), hilangkan saja. Program SKPD (Untuk membiayai Adminstrasi Umum), potong 40 %. Silpa 2009, mungkin bisa dinaikkan menjadi sekitar 16 M (karena ini nilai rata-rata silpa setiap tahunnya). Dengan ini saja sudah terkumpul 74 Milyar, belum lagi bila beberapa sector pendapatan bisa di genjot kembali, dengan cara mengurangi kebocoran. (lihat Tabel).

(*Zenni Muryaman, Direktur Pusat Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat Lokal (P3ML)/ Pegiat Perencanaan dan Penganggaran/ Anggota FDM)


Sumber :
http://koransumedang.com/2009/10/2010-sumedang-hampir-bangkrut/
15 Juni 2010

Kerajaan Sumedang Larang

Kerajaan Sumedang Larang adalah salah satu kerajaan Islam yang diperkirakan berdiri sejak abad ke-15 Masehi di Jawa Barat, Indonesia. Popularitas kerajaan ini tidak sebesar popularitas kerajaan Demak, Mataram, Banten dan Cirebon dalam literatur sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Tapi, keberadaan kerajaan ini merupakan bukti sejarah yang sangat kuat pengaruhnya dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, sebagaimana yang dilakukan oleh Kerajaan Cirebon dan Kerajaan Banten.


Sejarah

Kerajaan Sumedang Larang (kini Kabupaten Sumedang) adalah salah satu dari berbagai kerajaan Sunda yang ada di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Terdapat kerajaan Sunda lainnya seperti Kerajaan Pajajaran yang juga masih berkaitan erat dengan kerajaan sebelumnya yaitu (Kerajaan Sunda-Galuh), namun keberadaan Kerajaan Pajajaran berakhir di wilayah Pakuan, Bogor, karena serangan aliansi kerajaan-kerajaan Cirebon, Banten dan Demak (Jawa Tengah). Sejak itu, Sumedang Larang dianggap menjadi penerus Pajajaran dan menjadi kerajaan yang memiliki otonomi luas untuk menentukan nasibnya sendiri.

No. Masa(Tahun)
1 Kerajaan Sumedang Larang (900 - 1601)
2 Pemerintahan Mataram II (1601 - 1706)
3 Pemerintahan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)(1706 - 1811)
4 Pemerintahan Inggris (1811 - 1816)
5 Pemerintahan Belanda / Nederland Oost-Indie (1816 - 1942)
6 Pemerintahan Jepang (1942 - 1945)
7 Pemerintahan Republik Indonesia (1945 - 1947)
8 Pemerintahan Republik Indonesia / Belanda (1947 - 1949)
9 Pemerintahan Negara Pasundan (1949 - 1950)
10 Pemerintahan Republik Indonesia (1950 - sekarang)


Asal Mula Nama

Kerajaan Sumedang Larang berasal dari pecahan kerajaan Sunda-Galuh yang beragama Hindu, yang didirikan oleh Prabu Aji Putih atas perintah Prabu Suryadewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pajajaran, Bogor. Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Yang pertama yaitu Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke XII. Kemudian pada masa zaman Prabu Tajimalela, diganti menjadi Himbar Buana, yang berarti menerangi alam, Prabu Tajimalela pernah berkata “Insun medal; Insun madangan”. Artinya Aku dilahirkan; Aku menerangi. Kata Sumedang diambil dari kata Insun Madangan yang berubah pengucapannya menjadi Sun Madang yang selanjutnya menjadi Sumedang. Ada juga yang berpendapat berasal dari kata Insun Medal yang berubah pengucapannya menjadi Sumedang dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingnya.


Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sumedang_Larang
14 Juni 2010

Geografi dan Tofografi Sumedang

Letak Geografis dan Luas Wilayah

Kabupaten Sumedang terletak antara 6º44’-70º83’ Lintang Selatan dan 107º21’-108º21’ Bujur Timur, dengan Luas Wilayah 152.220 Ha yang terdiri dari 26 kecamatan dengan 272 desa dan 7 kelurahan. Kabupaten Sumedang memiliki batas wilayah administratif sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu

Sebelah Selatan : Kabupaten Garut

Sebelah Barat : Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang

Sebelah Timur : Kabupaten Majalengka

Kecamatan paling luas wilayahnya adalah Kecamatan Buahdua dan yang paling kecil luas wilayahnya adalah Kecamatan Cisarua.

Rincian Luas Wilayah setiap Kecamatan


1 Jatinangor 2.620 Ha.

2 Cimanggung 4.076 Ha

3 Tanjungsari 3.562 Ha

4 Sukasari 4.712 Ha

5 Pamulihan 5.785 Ha

6 Rancakalong 5.228 Ha

7 Sumedang Selatan 11.737 Ha

8 Sumedang Utara 2.826 Ha

9 Ganeas 2.136 Ha

10 Situraja 5.403 Ha

11 Cisitu 5.331

12 Darmaraja 5.494 Ha

13 Cibugel 4.880 Ha

14 Wado 7.642 Ha

15 Jatinunggal 6.149 Ha

16 Jatigede 11.197 Ha

17 Tomo 6.626 Ha

18 Ujungjaya 8.056 Ha

19 Conggeang 10.531 Ha

20 Paseh 3.437 Ha

21 Cimalaka 4.161

22 Cisarua 1.892 Ha

23 Tanjungkerta 4.014 Ha

24 Tanjungmedar 6.514 Ha

25 Buahdua 13.137 Ha

26 Surian 5.074


Topografi

Kabupaten Sumedang merupakan daerah berbukit dan gunung dengan ketinggian tempat antara 25 m – 1.667 m di atas permukaan laut. Sebagian besar Wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.667 m), berada di Utara Perkotaan Sumedang.


Kelompok Ketinggian Menurut Kecamatan di Kabupaten Sumedang



Ketinggian dari Permukaan Laut (m)

1 Jatinangor 500 – 1000 dpl

2 Cimanggung 500-1000 lebih dpl

3 Tanjungsari 500-1000 lebih dpl

4 Sukasari -

5 Pamulihan -

6 Rancakalong 500-1000 lebih dpl

7 Sumedang Selatan 100 – 1000 lebih dpl

8 Sumedang Utara 100-1000 dpl

9 Ganeas -

10 Situraja 100-1000 lebih dpl

11 Cisitu -

12 Darmaraja 100-1000 lebih dpl

13 Cibugel 100-1000 lebih dpl

14 Wado 100 – 1000 lebih dpl

15 Jatinunggal -

16 Jatigede 100-500 dpl

17 Tomo 25 – 500 dpl

18 Ujungjaya 25 – 500 dpl

19 Conggeang – 50-1000 lebih dpl

20 Paseh 500-1000 dpl

21 Cimalaka 500-1000 lebih dpl

22 Cisarua -

23 Tanjungkerta 500-1000 dpl

24 Tanjungmedar -

25 Buahdua 50 – 1000 lebih dpl

26 Surian -

Keterangan : NR = Data tidak tersedia

Sedangkan topografi kemiringan lahan wilayah Kabupaten Sumedang dapat diklasifikasikan atas 5 kelas, yaitu :

0 – 8%, merupakan daerah datar hingga berombak dengan luas area sekitar 12,24%. Kemiringan wilayah dominan di bagian timur laut, barat laut, barat daya serta kawasan perkotaan;


8 – 15%, merupakan daerah berombak sampai bergelombang dengan area sekitar 5,37%. Kemiringan wilayah dominan di bagian tengah ke utara, barat laut dan bagian barat daya;

15 – 25%, merupakan daerah bergelombang sampai berbukit dengan komposisi area mencakup 51,68%. Kemiringan lereng tipe ini paling dominan di Wilayah Kabupaten Sumedang. Persebarannya berada di bagian tengah sampai ke tenggara, bagian selatan sampai barat daya dan bagian barat;

25 – 40%, merupakan daerah berbukit sampai bergunung dengan luas area sekitar 31,58%. Kemiringan lereng tipe ini dominan di wilayah Kabupaten Sumedang bagian tengah, bagian selatan dan bagian timur;

Lebih dari kemiringan 40%, merupakan daerah bergunung dengan luas area mencakup sekitar 11,36%. Kemiringan lereng tipe ini dominan di wilayah Kabupaten Sumedang bagian selatan, bagian timur dan bagian barat daya.



Hidrologi dan Klimatologi

Aspek hidrologi suatu wilayah sangat diperlukan dalam pengendalian dan pengaturan tata air wilayah tersebut, berdasarkan hidrogeologinya, aliran-aliran sungai besar di wilayah Kabupaten Sumedang bersama anak-anak sungainya membentuk pola Daerah Aliran Sungai (DAS) yang dapat digolongkan terdiri 3 DAS dengan 6 Sub DAS yaitu DAS Cimanuk meliputi Sub DAS Cimanuk Hulu, Cipeles, Cimanuk Hilir, Cilutung, DAS Citarum meliputi Sub DAS Citarik serta DAS

Cipunegara meliputi Sub DAS Cikandung.

Secara umum terjadi penurunan kuantitas curah hujan dan jumlah hari hujan dibanding dengan keadaan selama tahun sebelumnya. Dari tabel diketahui rata-rata kuantitas curah hujan tahun 2008 adalah 1.251 mm, mengalami penurunan dibanding Tahun 2007 adalah 2.365 mm, begitu pula dengan jumlah hari hujan, mengalami penurunan yaitu 72 HH

pada Tahun 2008 dari 125 HH pada Tahun 2007. Pada Tahun 2008 jumlah hari hujan terbesar berada di Kecamatan Wado yaitu sebesar 124 hari hujan (HH) dan yang terkecil adalah Kecamatan Cibugel yaitu hanya 34 HH.



Luas dan Sebaran Kawasan Budidaya

Luas lahan yang tidak diusahakan relatif sangat kecil dibandingkan dengan luas lahan yang sudah diusahakan. Hal ini menunjukan bahwa Kabupaten Sumedang memiliki Sumber Daya Alam memadai yang siap diolah. Luas lahan yang berupa sawah sebanyak 21,95%, luas lahan berupa Hutan Negara sebanyak 29,78%, luas lahan berupa tegal / kebun sebanyak 23,04% dan hutan rakyat sebesar 8,96%. Hal ini memperlihatkan bahwa luas wilayah Kabupaten Sumedang untuk kehutanan dan pertanian ternyata lebih dari 50% dari luas wilayah Kabupaten Sumedang.


Luas dan Sebaran Kawasan Lindung

Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, terdapat 10 jenis kawasan lindung meliputi :

1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya.

a) Hutan lindung, terletak di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH);

b) Kawasan berfungsi lindung di luar kawasan hutan;

c) Kawasan resapan air terdiri dari Gunung Cakrabuana 560 ha,

Gunung Tampomas 1.280,39 ha, Gunung Kareumbi 8.624,80 ha,

Gunung Manglayang 1.800 ha.

2. Kawasan perlindungan setempat.

a) Sempadan pantai;

b) Sempadan sungai, meliputi 215 sungai yang terbagi dalam DAS Cimanuk (Sub-DAS Cimanuk 38 sungai, Sub-DAS Cipeles 85 sungai, Sub-DAS Cipelang 9 sungai, Sub-DAS Cilutung 5 sungai) dan DAS Citarum (Sub-DAS Citarik 18 sungai dan DAS

Cipunagara Sub-DAS Cikandung 50 sungai);

c) Kawasan sekitar danau / waduk, Waduk Jatigede;

d) Kawasan sekitar mata air, terdapat 331 sumber mata air;

e) Tanah timbul / Delta, di Tomo, Ujungjaya dan lainnya.

3. Kawasan suaka alam dan cagar budaya.

a) Cagar Alam, Cagar Alam Gunung Jagat seluas 126,6 ha (SK Mentan tahun 1954);

b) Suaka margasatwa;

c) Suaka alam laut dan perairan;

d) Kawasan hutan payau.

4. Kawasan pelestarian alam.

a) Taman nasional;

b) Taman hutan raya, Taman Hutan Raya Gunung Palasari dan Gunung Kunci 35,81 ha;

c) Taman wisata alam, Taman Wisata Alam Gunung Tampomas 1.280,39 ha (SK Mentan Tahun 1979) Ha dan Gunung Lingga 1,20 ha.

5. Taman buru, Taman Buru Masigit Kareumbi (di Kabupaten Bandung, Garut dan Sumedang) seluas 8.624,80 ha.

6. Kawasan perlindungan plasma nutfah, antara lain Ubi Cilembu, Talas Semir, Jeruk Cikoneng.

7. Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan Cadas Pangeran, Desa Adat Rancakalong, Museum Geusan Ulun, Makam Cut Nyak Dien, dan Makam Dayeuh Luhur.

8. Kawasan konservasi geologi, terdiri dari kawasan cagar alam geologi dan kawasan kars.

9. Kawasan rawan bencana alam

a) Kawasan rawan bencana alam gunung berapi.

b) Kawasan rawan gempa bumi, terdiri dari kawasan rawan gempa bumi dan kawasan rawan gerakan tanah seperti di Kawasan Cadas Pangeran, Paseh, Tomo, Ujungjaya, Wado, Jatinunggal, Jatigede, Situraja, Ganeas, Sumedang Selatan, Rancakalong, Pamulihan.

c) Kawasan rawan banjir, seperti Ujungjaya, Tomo, Cimangung, Jatinangor.

10. Hutan Kota, antara lain taman hutan raya, taman hutan raya Gunung Palasari dan Gunung Kunci 35,81 ha.


Rencana Kawasan Lindung


Dalam upaya tercapainya 49% kawasan lindung di Kabupaten Sumedang, sampai Tahun 2008 realisasinya mencapai 67.524,80 Ha (44,36%). Untuk mencapai sasaran seluas 74.587,8 Ha (49%) diperlukan penanganan seluas 7.063 Ha (4,64%) yang diproyeksikan selama 4 tahun atau 1.765,75 Ha (1,16%) pertahun.

Sampai saat ini pengelolaan kawasan lindung secara menyeluruh belum dapat dilaksanakan secara optimal, dikarenakan beberapa hal antara lain belum tersedia database kawasan lindung secara komprehensif dan detail sehingga diperlukan inventarisasi dan pemetaan. Selain itu, kawasan lindung (diluar kawasan hutan) mempunyai nilai ekonomi sehingga mendorong masyarakat untuk mengekploitasi (termasuk aktivitas pertanian) terlebih bagi yang tidak memiliki lahan. Begitu juga

dalam penetapan luasan kawasan lindung, dimana dalam RTRW Jawa Barat sebesar telah ditetapkan sebesar 45% yang terdistribusikan secara proporsional di wilayah kabupaten / kota dan dalam RTRW Kabupaten Sumedang ditetapkan sebesar 49%.


Sumber :
http://sumedangonline.com/2010/05/15/geografis-dan-topografi-sumedang.html
15 Juni 2010

Sumedang

Aeh aeh di Sumedang seueur gunung
Gunung Merak sisi cai
Gunung Puyuh tebeh kidul
Mapay-mapay sukahaji
Molongpong jalan ka gedong.

Pupuh Maskumambang ini menggambarkan keadaan geografis Kabupaten Sumedang yang dikelilingi gunung. Sumedang berasal dari dua kata yaitu Insun yang berarti saya, dan Medal yang berarti lahir. Pada masa kejayaannya, kerajan Sumedang Larang sangat luas yaitu Jawa Barat dikurangi Kesultanan Cirebon dan Banten. Kabupaten sumedang merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Barat yang terletak pada 107°44` - 160°30` Bujur Timur dan 6°36` - 7°2` Lintang Selatan. Jarak terjauh dari arah Barat - Timur 53 Km dan Utara Selatan 51 Km, dengan batas administrasi sabagai berikut

Sebelah Utara : Kabupaten Indramayu
Sebelah Selatan : Kabupaten Bandung dan Garut
Sebelah Barat : Kabupaten Bandung dan Subang
Sebelah Timur : Kabupaten Majalengka

Kabupaten Sumedang secara geografis merupakan wilayah yang strategis, karena jarak ke pusat kota Bandung yang menjadi ibu kota Propinsi relatif pendek (45 Km), dan berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten bandung. Dengan demikian sebagian fungsi kota Bandung ditampung di wilayah Kabupaten Sumedang seperti pemukiman. Industri, pendidikan dan pertanian sebagai pengedia bahan pangan.


Iklim di Kabupaten Sumedang termasuk tipe Iklim C menurut Schmidth dan Ferguson, sedangkan curah hukan rata-rata pada tahun 1996 tercatat 2.301 mm dengan 129 hari hujan per tahun

Tofografi Kabupaten Sumedang bervariasi dari dataran di bagian Utara sampai berbukit di bagian Selatan dan Barat, Tinggi tempat diatas permukaan diatas permukaan laut berkisar antara 36 - 1500 m dpl.

Dengan topografi berbukit dan kemiringan tanah yang sangat bervariasi dan sangat dimungkinkan terdapatnya lahan kritis yang cukup luas. Dengan kondisi kemiringan tanah diatas, hasil indentifikasi kepekaan tanah terhadap erosi pada tahun 1996
Peka 3.946,90 Ha = 2,61 %
Agak Peka 13.793,29 Ha = 9,06%
Tidak Peka 134.461,79 Ha = 88,33 %


Kerajaan yang pertama kali berdiri di daerah ini bernama Tembong Agung. Tembong artinya mulai nampak, dan Agung artinya cita-cita luhur. Dengan demikian Kerajaan Tembong Agung berarti cita-cita luhur yang mulai nampak, Rajanya bernama Prabu Guru Hadji Adji Putih (Haji Purwa Sumedang)

Setelah Raja Haji Purwa Sumedang mangkat yakni pada abad XIII digantikan oleh puteranya bernama Prabu Tadjimalela dan nama kerajaannya diganti dari Kerajaan Tembong Agung menjadi

Kerajaan Hibar Buana yang artinya menerangi Alam, namun demikian dalam perjalannannya kerajaan itu berubah lagi menjadi Sumedang Larang, nama ini diilhami dari perkataan ” Insun Medal Medangan Larangan ” yang berarti ” aku dilahirkan di tempat yang mulia yang sarat dengan tantangan dan ujian dalam menuju ketingkat kemakmuran rakyat”. Pada akhirnya dalam catatan sejarah Sumedang Larang diproklamirkan oleh Pangeran Angkawijaya atau yang dikenal dengan Prabu Geusan Ulun pada tahun 1580 dan sejak itulah kerajaan ini dikenal kesetiap pelosok kota di Pulau Jawa.

Menjelang akhir tahtanya Prabu Geusan Ulun, muncul Kesultanan Mataram dengan membawa pengaruh dan perubahan di bidang sosial, ekonomi dan sistem pemerintahan. Oleh karena itu pemerintah Keprabuan (Kerajaan) diganti oleh sistem Pemerintahan Kabupaten hingga saat ini.


Potensi Unggulan Sumedang

A. SENI BUDAYA

1. Kuda Renggong

Yang menciptakan seni kuda renggong yaitu Sipan, dari desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang. Pada awalnya secara tidak disengaja, yaitu sekitar tahun 1910-an

Daya tarik yang terdapat dalam atraksi seni kuda renggong, antara lain keterampilan gerak Sang Kuda melakukan gerakan gerakan kaki, kepala dan badan mengikuti irama musik yang mengiringinya.
Hewan yang pandai menari, bergoyang, dan bersilat telah menjadi bagian dari upacara penyambutan tamu kehormatan, mulai dari bupati, gubernur sampai mentri dan pejabat lainnya.


2. Seni tari

Atraksi Seni Tari yang ada di Kabupaten Sumedang terdiri dari berbagai jenis seni tari, yaitu :

PANCAWARNA
Tarian ini menggambarkan tentang seseorang yang (baru) telah mendapatkan ilmu kesempurnaan hidup.


JAYENGRANA
Asal kata dari Jaya ing rana. Sebuah tarian yang menggambarkan kegembiraan Raja Amir Hamzah ketika ditolong oleh dua putri cantik: Dewi Sirtupulati dan Ratu Sudarawerti untuk dapat melepaskan diri dari tahanan Raja Banu.

GANDAMANAH
Menggambarkan seorang patriot bangsa yang memiliki sikap tidak angkung dan sombong. Ibarat ilmu padi makin berisi makin merunduk.


GATOTGACA GANDRUNG
Sebuah tarian yang menggambarkan ketika Gatotgaca cinta kepada Dewi Pergiwa Pergiwati. Tampaknya akibat mabuk kepayang sehingga Gatotgaca lengah. Dalam kondisi psikologis seperti ini maka dimanfaatkan oleh buta cakil untuk menyerangnya dengan leluasa.
Namun demikian, berkat kekuatan dan keampuhan ilmu yang dimilikinya, Gatotgasa bisa tetap unggul dalam pertarungan.


IBING SERIMPI
Menggambarkan lima orang putri di bawah pimpinan Nyi Mas Gilang Kencana ketika mengawal Prabu Geusan Ulun dan Permasurinya Nyi Mas Gedeng Waru terjadi clsh dengan pasukan Cirebon.


TOPENG KELANA
Menggambarkan Sang Dewi Sekar Kendoja berjuang menolong suaminya Rd. Gagak Pranda ketika menghadapi jurit dengan Barun.


3. Tarawangsa

Tarawangsa merupakan kesenian dari Kecamatan Rancakalong, pada awalnya Tarawangsa dilakukan setelah panen sebagai ucapan terima kasih pada DEWI SRI. sedangkan sekarang tarawangsa dilakukan kapan saja pada acara selamatan atau syukuran. Alat Instrumen yang digunakan pada tarawangsa berupa sebuah kecapi dan sebuah rebab. Penari biasanya sampai tidak sadarkan diri (kemasukan roh)


4. Rengkong

Tarian ini biasanya dilakukan setelah panen, sebagai rasa terima kasih kepada Dewi Sri. Selesai panen padi itu dahulu merupakan geugeusan = diikat) dibawa ke suatu tempat yang menjadi milik kepentingan bersama seperti Balai Desa atau Lumbung Desa. Iringan iringan itu didahului dengan membawa umbul-umbul kemudian disusul dengan pikulan yang merupakan iringan rengkong. Untuk keperluan itu, pikulan dibuat dari batang bambu yang diatur sehingga bila di gerakan setelah digantungi padi, maka dengan adanya gesekan tali kepada batang bambu itu menimbulkan suara yang berirama. makin banyak memikul makin meriah rengkng itu. Barisan rengkong di susul oleh pembawa alat-alat tatanen, dan paling belakang barisan angklung dan dogdog jojor.Tabuhan itulah yang paling memeriahkan suasana. Sesampainya di tempat yang dituju, barisan angklung dan dogdog


5. Tayub

Melihat asal-usulnya, tarian tayub muncul dari kalangan menak. Tetapi, sekarang bukan hanya para menak yang boleh menari dalam tayuban. Dahulu, menurut Enoch Atmadibrata, alasan tayuban disukai karena memperebutkan para penari yang disebut ronggeng. “Sayangnya, banyak kejadian yang menyinggung kesusilaan, misalnya berani menyelipkan uang ke dada ronggeng atau menggigit uang sambil berharap diterima oleh sang ronggeng dengan digigit lagi, tapi hal seperti itu sekarang tidak ada lagi. Tarian ini mengungkapkan kegembiraan.Gerakannya merupakan improvisasi. Secara spontanitas, penari tayub bisa menciptakan improvisatoris, tapi tetapsesuai dengan musik pengiring.

Tarian tayub bisa dijadikan sebagai ajang silaturahmi. Artinya, tarian tayub bukan tampilan tari yang memisahkan penonton dengan yang ditontonnya.Dalam tayub semua yang ada (para hadirin) bisa ikut menari walaupun sebenarnya tidak bisa. Dalam tarian tayub ada hal yang menyerupai tarian ketuk tilu., yaitu menghibur, penonton yang menari sambil ikut menari. Perbedaannya dalam prakteknya dan perlengkapan lainnya.Gerakannya merupakan improvisasi. Ada yang menyebutkan bahwa tarian tayub berasal dari tarian silaturahmi di kalangan para menak, sedangkan ketuk tilu di kalangan rakyat biasa.Ada yang menyebutkan bahwa tarian tayub berasal dari tarian silaturahmi di kalangan para menak, sedangkan ketuk tilu di kalangan rakyat biasa.


6. kecapi suling

Seni Kecapi Suling merupakan suatu kesenian tradisional dan merupakan salah satu ciri kahs kesenian Sumedang, dimana sesuia dengan namanya kesenian ini menggunakan alat kesenian dengan sebuah Kecapi dan Suling yang mengiringi penyanyi.



B. SITUS/PENINGGALAN

1. Cadas Pangeran

Bila memasuki kota Sumedang dari arah Bandung, pasti akan melewati Jalan Cadas Pangeran. Gugusan Gunung Batu yang dipisahkan oleh tebing yang curam dan terjal setinggi kurang lebih 150 m, telah menyimpan sejarah yang paling buram dan pahit. Ribuan rakyat Sumedang dihujani paksaan Belanda, dikenal dengan istilah kerja rodi (kerja siksaan) untuk membobok gunung batu sebagai terwujudnya poros jalan Anyer - Panarukan sebagaimana dicitacitakan Gubernur Jendral Herman Wiliam Daendels.
Saat ini lokasi Cadas Pangeran telah mendapat penataan, sehingga menjadi simpul wisata Kabupaten Sumedang, dimana suasana yang seram telah menjadi mengesankan dan ramah.


2. Makam Coet Nyak Dhien

Ada beberapa makam yang bersejarah yaitu : Makam Tjoet Nyak Dhien, Dayeuh Luhur, Prabu Gajah Agung, dan Marongge yang kesemuanya menyimpan sejarahnya masih-masing. Tjoet Nyak Dhien adalah pejuang wanita dari tanah Rencong Aceh terkenal paling keras menentang dominasi Kolonial Belanda, dan pada tahun 1906 tertanggkap oleh Belanda dan dibuang ke Sumedang. Beliau wafat pada tanggal 6 Nopember 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh, letaknya tidak jauh dari Kantor Pemerintahan Sumedang.


3. Gunung Kunci

Bukit kecil yang ditumbuhi tanaman pinus ternyata memiliki sejarah yang unik. Disini terdapat sebuah Goa yang disebut GOA KOENTJI yang dibuat tahun 1917 oleh Belanda.
Di dalam goa tersebut terdapat lorong-lorong besar dan kecil yang menghubungkan kamar-kamar yang ada di dalam goa tersebut. Goa ini digunakan selain untuk pertahanan Belanda juga sebagai tempat tawanan dan gudang senjata.


4. Museum Prabu Geusan Ulun

Berdirinya Museum ini atas prakarsa Keluarga Pangeran Sumedang, didalamnya terdapat benda-benda pusaka peninggalan leluhur Sumedang seperti Mahkota Binokasih Sanghi Pake (terbuat dari emas murni) lambang kebesaran Raja-Raja Pajajaran, Kereta Naga Paksi (terbuat dari besi baja dan perak dengan ukiran khas Sumedang Cirebon) yang digunakan oleh Raja-raja Sumedang dahulu, Senjata-senjata perang Belanda masa dulu dan benda -benda pusaka lainnya. Pada tahun 1974 nama museum ini diganti damanya menjadi Museum Prabu Geusan Ulun, bentuk bangunan tidak mengalami perubahan dan sangat artistik


5. Dayeuh Luhur

Obyek Wisata Ziarah, terdapat makam leluhur Sumedang (Prabu Geusan Ulun, raja terakhir Sumedang Larang, Ratu Harisbaya sebagai istri ke tiga dan Embah Jaya Perkosa sebagai patihnya terletak di puncak pegunungan yang keadaan alam dan udaranya masih asli dan sejuk, berada di Desa Dayeuh luhur Kecamatan Ganeas. Prabu Jaya Perkosa tokoh ini sangat di kenal oleh masyarakat khususnya Orang Sumedang, tokoh ini telah membawa kebesaran Sumedang pada waktu itu ketika Sumedang berususan/sengketa dengan kerajaan Cirebon di karenakan Putri Harisbaya. Dalam hal ini merupakan satu ciri atau kisah tersendiri bagi masyarakat Sumedang dan bisa di katakan suatu tanda kejayaan Sumedang yang harumnya dikarena seorang tokoh yang sangat punya kesaktian dan andalan Sumedang Larang pada waktu itu


Kisah Hanjuang

Eyang Jaya Perkosa sebagai senapati terakhir sebelum runtuhnya kerajaan Pakuan Padjajaran, berhasil menyelamatkan Mahkota Kerajaan (Binokasih) serta atribut kerajaan lainnya dan diserahkan kepada raja Sumedang Larang dan sejak saat itu penyerahan mahkota tersebut beliau menjadi Senapati Kerajaan Sumedang Larang. Persoalan Putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun menjadikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang, sehingga Cirebon mengirim pasukannya menyerang Kutamaya.

Namun pasukan Cirebon tidak berhasil mencapai sasarannya karena dihadang oleh pasukan Sumedang Larang yang berada dibawah pimpinan Senapati Eyang Jaya Perkosa.

Konon sebelum Eyang Jaya Perkosa pergi menghadang pasukan Cirebon, beliau menanam pohon Hanjuang di Kutamaya dan meninggalkan amanat : ” Jika Pohon hanjuang ini masih segar, menandakan aku masih hidup dan jangan tinggalkan Kutamaya”.

Syahdan menurut cerita pada saat pertempuran, Eyang Jaya Perkosa terpisah dari ketiga saudaranya yang turut dalam pertempuran itu.

Salah satu dari saudaranya yang bernama Nangganan, menduga bahwa Eyang Jaya Perkosa telah gugur dalam pertempuran tersebut, sehingga mereka memutuskan kembali ke Kutamaya untuk menyarankan kepada Pangeran Geusan Ulun agar memindahkan pusat Pemerintahan Sumedang Larang dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur sebagai basis pertahanan yang sangat strategis.

Penyerahan daerah Sindangkasih (Majalengka) sebagai pembayaran talak kepada raja Cirebon serta perkawinan putri Harisbaya dengan Pangeran Geusan Ulun telah mendamaikan perselisihan antara Cirebon dan Sumedang Larang.

Senapati Eyang Jaya Perkosa yang kembali dari medan perang menemukan Kutamaya telah di tinggalkan.Tentu saja beliau sangat menyesalkan tindakan Pangeran Geusan Ulun dan sesampainya di Dayeuh Luhur beliau membunuh Nangganan, saudaranya atas kesalahannya itu.

Konon kekecewaan Eyang Jaya Pekosa yang sebenarnya adalah harapan untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Pakuan Padjajaran melalui kerajaan Sumedang Larang telah gagal.

Sementara pohon Hanjuang yang ditanam oleh Eyang Jaya Perkosa sampai saat ini masih tumbuh subur di Kutamaya (ds. Padasuka Kecamatan Sumedang Utara).

Dendam dan kebencian terhadap musuh juga diisyaratkan kepada keturunannya kelak apabila berziarah ke makamnya dilarang berpakaian BATIK yang menurut pendapatnya sebagai ciri khas pakaian musuh-musuhnya.

Sumber : Babad Sumedang, Waruga Jagat


6. Marongge

Tempat makam tilemnya Embah Gabug dan saudara-saudaranya/adiknya yaitu : Embah Setayu, Embah Naibah dan Embah Naidah. Menurut cerita ke-4 (empat) putri ini sangat cantik tatkala banyak orang/raja-raja pada waktu itu yang ngin mempersuntingnya karena ke-4 (empat) putri itu sangat cantik, namun selalu gagal karena mereka tidak sanggup mengalahkan kesaktian Embah Gabug. Obyek Ziarah Marongge terletak di Desa Marongge Kecamatan Tomo, jaraknya ± 4 km dari Jalan Raya Bandung Cirebon. Setiap saat banyak dikunjungi terutama pada Jum’at keliwon dengan maksud dan tujuannya untuk meminta barokah dari Embah Gabug dan saudara-saudaranya


7. Situs Tembong Agung

Kerajaan Tembong Agung yang pusat Pemerintahannya di Leuwi Hideung (Ds. Leuwi, Hideung Kc. Darmaraja) masa itu berada di bawah kekuasaan Prabu Guru Aji Putih (1472 M - 1482 M) merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Di kampung Kondang, Desa Muhara/Leuwi Hideung kecamatan Darmaraja dapat ditemukan petilasan Kerajaan Tembong Agung, berupa pohon Kiara Bunut. Konon pohon ini terletak di tengah Alun-alun Kerajaan dan diperkirakan telah berusia 600 tahun. Situs ini akan terendam Jika Pembangunan Waduk Jati Gede Selseai dibangun


8. Gunung Tampomas

Gunung Tampomas merupakan gunung tertinggi diKabupaten Sumedang pemandangan yang indah dan gunung ini masih tetap alami dan merupakan tempat mendaki bagi yang hoby berpetualang naik gunug.

Konon di Tempat ini pernah dipakai peristirahatan (semedi/paseban) Prabu Siliwangi Raja Pakuan Padjajaran.



C. OBYEK WISATA

1. Curug Cipongkor
Curug Cipongkortak kurang punya rasa indah dari kekayaan alam yang dianugrahkan oleh tuhan yang bisa memberi kesan menentramkan bagi manusia yang mengunjungi air terjun sangat menarik serta lingkungan alam sekitarnya yang masih alami.Wilayah ini masih dikatakan masih terjaga kelestrarian alamnya sehinga sangat menarik bagi pengunjung. Untuk menuju ke lokasi ini harus berjalan kaki sepanjang 3 km. Lokasinya terletak di Desa Ciberang kecamatan Sumedang Selatan.


2. Gunung Lingga
Obyek Wisata terletak di Desa Cimarga Kecamatan Cisitu, . Di sini terdapat makam/petilasan Prabu Tajimalela. Prabu Tajimalela adalah Raja Sumedang Larang yang ke dua letaknya di puncak pegunungan yang keadaan alam dan udaranya masih asli dan sejuk dari tempat ini kita dapat melihat jauh ke sebelah barat laut akan terlihat wilayah Kecamatan Darmaraja yang konon tempat Ibu Kota Kerajaan Sumedang Larang yang pertama kali didirikan oleh Ayah handa Prabu Tajimalela yaitu Prabu Guru Aji Putih.

Peninggalan dari Prabu Tajimalela adalah situs batuan menhir yang terdapat dipuncak Gunung Lingga, desa Cimarga, kecamatan Cisitu. Di tempat ini Prabu Tajimalela NGAHYANG atau menghilang setelah takhta kerajaan Sumedang Larang diwariskan kepada putranya yang bernama Prabu Gajah Agung. Petilasan ini terletak di Gunung Lingga Desa Cinarga Kecamatan Cisitu, jaraknya ± 12 km dari Ibu kota Kecamatan dengan menggunakan kendaraan bak terbuka, dan untuk menempuh lebih lanjut harus berjalan kaki dari Cimarga dengan menempuh jarak 2 km.


3. Cipantenen
Kolam Renang Alam yang sudah di modipikasi dengan dilengkapi oleh sarana penunjang lainnya, sehingga sangat cok untuk tempat rekreasi. Obyek wisata Alam ini tempatnya terletak di Desa Licin kurang lebih satu kilometer dari Ibu Kota Kecamatan Cimalaka. Lokasi tempat berhibur ini sangat mudah dukunjungi karena kendaraan umum banyak yang melewati pada areal pemandian Alam ini. Dari arah terminal Ciakar Sumedang anda hanya naik satu kali dengan kendaraan umum untuk mencapai lokasi Pemandian ini.


4. Curug Sindulang
Di Sumedang terdapat 5 buah curug yaitu: Curug Sindulang, Curug Cipongkor, Curug Sabuk, Curug Cibuluh dan Curug Tirta Buana. Kesemua curug tersebut mempunyai keistimewaan masing-masing sebagai daya tarik tersendiri. Curug Sindulang merupakan curug kembar yang berketinggian kurang lebih 30 m, dengan hawanya yang sejuk dan pemandangan alam yang indah. Curug sindulang terletak di Desa Sindulang Kecamatan

Cimanggung, dapat dilalui kendaraan. Akan lebih mudah ditempuh apabila menggunakan lintas jalan Cicalengka (Bandung) dengan jurusan Cicalengka Leuwiliang.


5. Cipanas Conggeang
Cipanas Conggeang merupakan objek wisata Air Panas yang terletak di Desa Sekarwangi Kecamatan Buahdua dengan jarak kurang lebih 18 Km dari kota Sumedang. Objek wisata Air Panas ini mempunyai khasiat bagi penyembuhan penyakit kulit, sering didatangi pengunjung untuk berobat sekalian menikmati kesejukan iklimnya dan keindahan pemandangannya. Untuk para penginap telah disediakan Cottage dan kamar mandi air panas.


6. Kampung Toga
Kampung Toga terletak di desa Sukajaya Kecamatan Sumedang Selatan. Kampung Togamerupakan tempat untuk melepaskan lelah yang disekelilingnya dipenuhi dengan tumbuhan obat-obatan dari sana kita bisa memandang kota sumedang.



D. POTENSI UNGGULAN LAINNYA

1. Ubi Cilembu
Ubi jalar Nirkum merupakan salah satu komoditas pertanian yang dijadikan produk unggulan. Ubi jalar ini memiliki rasa yang khas (manis, legit) itu hanya ada di desa Cilembu Kecamatan Tanjungsari bersebelahan dengan lokasi Perguruan Tinggi Jatinangor. Sehingga terkenal dengan sebutan UBI CILEMBU
Areal tanaman yang cocok untuk ubi jalar nirkum di Desa Cilembu saat ini sekitar 100 Ha. Dimana setiap hektar lahan, hanya mampu menghasilkan ubi sebanyak 10 ton dengan lokasi berada di 4 blok yaitu Blok Sawah Lebak, Citiali, Sawah Lega dan Sawah Legok. Sedangkan permintaan perharinya hampir mencapai 23,78 ton


2. Salak Bongkok
Salak Mukti dari desa Bongkok yang berbatasan antara Kecamatan Paseh dan Conggeang dilihat dari segi rasa lebih bervariasi, ada rasa manis, asem manis, asem dan kesat.
Pada umumnya Salak Bongkok banyak dijual di pinggir jalan Negara antara Kecamatan Paseh dan Kecamatan Cimalaka ataupun di tempat lokasi ke arah Conggeang sekitar 2 Km


3. Tahu
Jenis makanan yang sangat menonjol dan telah dikenal di pulau jawa adalah Tahu Sumedang yang terbuat dari kacang kedele dengan campuran yang khas Sumedang. Pedagang tahu matang di Kota Sumedang cukup banyak yaitu sekitar 12 pedagang yang ternama.
Home industri pembuat tahu mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan ke arah pabrikan


4. Sale
Jenis makanan yang sangat menonjol dan telah dikenal di pulau jawa adalah Tahu Sumedang yang terbuat dari kacang kedele dengan campuran yang khas Sumedang. Pedagang tahu matang di Kota Sumedang cukup banyak yaitu sekitar 12 pedagang yang ternama.
Home industri pembuat tahu mempunyai potensi yang cukup baik untuk dikembangkan dan ditingkatkan ke arah pabrikan


5. Ukiran Kayu
Ukiran dan lukisan pada kayu di Kabupaten Sumedang menjadi salah satu komoditas yang unik serta mempunyai ciri khas tersendiri.
Ukiran pada kayu ini tidak terbatas pada perabotan rumah tangga saja tapi juga pada sarana bangunan perkantoran dan perumahan.

Sampai saat ini pasaran ukiran kayu ini selain di dalam negi juga sudah dipasarkan ke manca negara patung Asmat pun sudah dapat dibuat disini.


6. Senapan Angin
Senjata seperti bedil, pistol dan sebagainya, merupakan sarana perang yang umumnya dimiliki kalangan militer. Akan tetapi bagi pengrajin sarana tersebut telah menjadi dasar intuisi terhadap kelahiran Kerajinan Senapan Angin, sebagai sarana olah raga atau olah raga menembak. Potensi industri kerajinan tersebut paling menonjol di daerah Cipacing Kecamatan Cikeruh. Jarak dari kota Bandung kurang lebih 17 Km, dari kota Sumedang berjarak 28 Km. Hasil produksi tersebut telah menjamah ke setiap kota di tanah air, bahkan diekspor ke luar negeri.


HOTEL

Hotel Puri Mutiara

Potensi penyediaan Akomodasi dalam menunjang Pariwisata Sumedang mempunyai peluang yang sangat besar dimasa yang akan datang

Pada saat ini di Kabupaten Sumedang telah memiliki lebih dari 18 buah hotel dan penginapan dengan kelas dan fasilitas yang beraneka ragam untuk menunjang bila bendungan Jatigede selesai dikerjakan

Sebagai Informasi Hotel yang ada di Kabupaten Sumedang (daerah kota):

Hotel Puri Muriara, Jl. Prabu geusan Ulun No. 22 Tlp (0261) 202 102
Hotel Murni, Jl. Prabu Geusan Ulun No. 188 Tlp (0261) 201 139
Hotel Hegarmanah, Jl Mayor Abdurachman 165 Tlp (0261) 201 820
Hotel Kencana Jl. Pangeran Kornel Tlp (0261) 201 642
Hotel Sutra, Jl Mayor Abdurachman 172 Tlp (0261) 201 742


Sumber :
Wawan Supriadi
http://sosbud.kompasiana.com/2009/12/12/sumedang/
14 Juni 2010

Citra Rasa Masakan Rumah Makan Joglo - Sumedang

Rumah makan joglo - sumedang adalah nasi liwet bebek goreng dan sop buntut semua diracik dengan bumbu kraton solo yang akan membuat anda merasakan makanan yang bercitra rasa tinggi.

Selain makanan khas joglo sumedang juga menyajikan aneka makanan dan minuman yang sangat istimewa dengan harga terjangkau, di rumah makan joglo -sumedang anda akan menikmati suasana rumah jawa dengan bangunan 1 ha rumah joglo asli menggunakan krajinan dan ukiran dari jepara dari gebyok,pendopo serta kursi dan meja ditambah fasilitas rekreasi yang baik untuk keluarga yaitu mobil atv flyingfox (cooming soon) membuat suasana keluarga anda akan semakin meriah di rumah makan joglo-sumedang

tak ada yang menyangsikan kelezatan rasa ayam goreng dan bebek goreng dengan taburan kremes…sepiring nasi liwet panas yang dibuat secara dadakan , di santap bersama ayam goreng yang gurih/ ayam bakar/bebek goreng yang empuk serta semangkuk sayur asam wah…uenaak tenan, bila anda penggemar ayam goreng atau bebek goreng jangan lewatkan sajian istimewa ayam goreng yang di usung rumah makan joglo sumedang dengan bumbu kratonnya asli jawa - tengah cita rasanya khas yang gurih.

Tak sulit untuk menemukan rumah makan ini jika anda melewati jalur bandung - cirebon anda akan menemukan rumah makan dengan etnic jawa. Masakan sunda yang diracik dengan sentuhan bumbu kraton terutama jangan terlewatkan dengan SOP BUNTUTNYA UUUUAAAAAH MAK NYUUUS…DAN JUGA IKAN GURAME BAKAR COBEK YANG CITA RASANYA TIDAK AKAN ANDA TEMUKAN DITEMPAT LAIN GURAME BAKAR COBEK INILAH YANG MENJADI FAVORIT LANGGANAN PARA PEJABAT.

Rumah makan ini terletak 3km diatas kota sumedang sebelah kanan menuju cirebon. Bila dari arah cirebon menuju kota sumedang tepatnya di 3km menuju sumedang anda akan menemukan rumah makan joglo sumedang di sebelah kiri dengan halaman yang luas dilengkapi fasilitas mesjid , pemancingan , meeting room ,arena rekreasi (MOTOR ATV )

Untuk anda yang berencana ke kota sumedang atau melewati kota sumedang jangan sampai terlewati mampir di rumah makan joglo - sumedang.

Rumah makan yang berada dikota sumedang jawa barat tepatnya di cimalaka/serang rumah makan yang bernuansa jawa ini menyajikan makanan khas serta indonesia.

special dari rumah makan joglo - sumedang adalah nasi liwet bebek goreng dan sop buntut semua diracik dengan bumbu kraton solo yang akan membuat anda merasakan makanan yang bercitra rasa tinggi.

Selain makanan khas joglo sumedang juga menyajikan aneka makanan dan minuman yang sangat istimewa dengan harga terjangkau, di rumah makan joglo -sumedang anda akan menikmati suasana rumah jawa dengan bangunan 1 ha rumah joglo asli menggunakan krajinan dan ukiran dari jepara dari gebyok,pendopo serta kursi dan meja ditambah fasilitas rekreasi yang baik untuk keluarga yaitu mobil atv flyingfox (cooming soon) membuat suasana keluarga anda akan semakin meriah di rumah makan joglo-sumedang

tak ada yang menyangsikan kelezatan rasa ayam goreng dan bebek goreng dengan taburan kremes…sepiring nasi liwet panas yang dibuat secara dadakan , di santap bersama ayam goreng yang gurih/ ayam bakar/bebek goreng yang empuk serta semangkuk sayur asam wah…uenaak tenan, bila anda penggemar ayam goreng atau bebek goreng jangan lewatkan sajian istimewa ayam goreng yang di usung rumah makan joglo sumedang dengan bumbu kratonnya asli jawa - tengah cita rasanya khas yang gurih.

Tak sulit untuk menemukan rumah makan ini jika anda melewati jalur bandung - cirebon anda akan menemukan rumah makan dengan etnic jawa. Masakan sunda yang diracik dengan sentuhan bumbu kraton terutama jangan terlewatkan dengan SOP BUNTUTNYA UUUUAAAAAH MAK NYUUUS…DAN JUGA IKAN GURAME BAKAR COBEK YANG CITA RASANYA TIDAK AKAN ANDA TEMUKAN DITEMPAT LAIN GURAME BAKAR COBEK INILAH YANG MENJADI FAVORIT LANGGANAN PARA PEJABAT.

Rumah makan ini terletak 3km diatas kota sumedang sebelah kanan menuju cirebon. Bila dari arah cirebon menuju kota sumedang tepatnya di 3km menuju sumedang anda akan menemukan rumah makan joglo sumedang di sebelah kiri dengan halaman yang luas dilengkapi fasilitas mesjid , pemancingan , meeting room ,arena rekreasi (MOTOR ATV )

Untuk anda yang berencana ke kota sumedang atau melewati kota sumedang jangan sampai terlewati mampir di rumah makan joglo - sumedang.


Sumber :
http://www.sendokgarpu.com/blog/2009-07-29/Jalan_-_Jalan/citra-rasa-masakan-rumah-makan-joglo---sumedang/396/
15 Juni 2010

Asal Usul Tahu Sumedang

Kalau melewati kota Sumedang, kita pasti akan menemui pedagang tahu yang terkenal dengan nama Tahu Sumedang. Kalau tidak membeli tahu dan menyantapnya pasti membuat penasaran. Pada awalnya pengrajin tahu dirintis sejak abad ke 20-an. Konon berkaitan dengan perjalanan seorang imigran China ke Sumedang tahun 1900 bernama Ong Kino.

Menurut Ong Yoe Kin, tokoh tahu Sumedang kata tahu berasal dari China yakni “Tao Hu” yang maknanya (Tao artinya kacang, hu berarti lumat) atau sebagian China menyebut tahu sebagai daging tidak bertulang.

Ong Kino adalah ayah kandung Ong Bun Keng, lelaki asal negeri China itu terinspirasi membuat tahu berbahan baku kedelai, karena kecintaan terhadap istrinya yang menyukai tahu. Sebagai cikal bakal tahu Sumedang, maka Ong Kino membuat tahunya dengan bahan baku kedelai lurik mirip telor puyuh. Kedelai ini merupakan jenis kacang kedelai langka untuk ukuran sekarang. Awalnya tahu yang dibuatnya itu besar dan tebal. Lalu dirubah oleh Ong Kino dengan cara membagi tahu itu menjadi empat bagian supaya ukurannya tidak terlalu besar. Selanjutnya Ong kino memberi garam ke potongan tahu yang sudah berbentuk persegi itu dan ternyata istrinya sangat menyukainya.

Sekitar tahun 1900, tahu China ukuran kecil yang dirintis oleh Ong kino mulai dipasarkan oleh anaknya bernama Ong Bun Keng. Tahu buatan 1917 itu merupakan cikal bakal harumnya nama tahu Sumedang.

Ketika Dalem Sumedang Pangeran Soeriaatmadja yang akan pergi ke daerah Situraja mampir mencicipi tahu buatan Ong Bun Keng, ternyata lezat dan gurih. Akhirnya usaha tahu itu dikembangkan menjadi lebih professional dan ternyata tahu Bun Keng yang awalnya dikerjakan oleh keluarga bisa menyerap tenaga kerja warga sekitar yang jumlahnya mencapai 30 orang.

Dan sejak tahun 1950 nama tahu Bun keng makin berkembang dan kian banyak yang menyukainya.


Sumber :

Handoyo

http://id.shvoong.com/business-management/1909458-asal-usul-tahu-sumedang/

15 Juni 2010

Tahu Sumedang Masih Menggeliat

Di saat sejumlah perusahaan manufaktur di Jawa Barat berniat gulung tikar dan memberhentikan sejumlah karyawan akibat krisis finansial global, industri rumahan tahu sumedang masih menggeliat.

Di sentra industri tahu sumedang di Kampung Babakan Giriharja, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, belasan industri rumahan tahu terus berjalan dengan kapasitas pengolahan kedelai hingga 2 ton per hari.

Namun, seperti dituturkan Udin Komarudin (40), salah seorang pengusaha tahu, keuntungannya merosot hingga 60 persen karena kenaikan harga kedelai sejak akhir Desember 2007. Padahal, saat harga kedelai masih Rp 2.500-Rp 3.000 per kilogram, keuntungan pengusaha bisa mencapai 100 persen dari modal awal. Kini, harga kedelai Rp 6.500-Rp 7.000 per kg. "Keuntungan juga terkuras kenaikan harga bahan bakar minyak," ujar Udin.

Dalam sehari, pabrik pengolahan tahu milik Udin rata-rata menggiling 6 kuintal kedelai. Total, Udin bisa menghasilkan 80 ancak (semacam loyang dari kayu berbentuk persegi berukuran 40 cm x 40 cm) tahu. Satu ancak tahu bisa dipotong menjadi 100-120 tahu ukuran standar.

Tahu produksi Udin dikirim ke 38 warung yang tersebar di Sumedang, Subang, dan Bogor. Pendapatannya sehari Rp 7 juta, dengan keuntungan bersih rata-rata Rp 500.000. Biaya paling banyak terserap untuk gaji pegawai yang berjumlah 15 orang dan kebutuhan operasional, seperti listrik, kayu bakar, dan transportasi.

Geliat bisnis tahu sumedang pun dinikmati Soyat (32), pengusaha tahu di Jalan Andir, Kecamatan Sumedang Utara. Setiap hari, Soyat menggiling seperempat kuintal kedelai atau setara dengan produksi 20 ancak tahu. Ia menyuplai empat warung di Sumedang dengan harga per ancak Rp 15.000. Dari setiap ancak tahu yang dijual, ia mengambil keuntungan sekitar Rp 2.000.

Selain memberikan keuntungan yang cukup, bisnis tahu sumedang juga menyediakan lapangan kerja. Sekitar 11 industri rumahan tahu yang relatif besar di Babakan Giriharja rata-rata mempekerjakan lebih dari 10 orang. Belum lagi, dampak domino yang timbul dengan makin bertumbuhnya pedagang dan warung tahu sumedang di sekitarnya.

Menyebar

Gurih dan nikmatnya rasa tahu sumedang dan geliat bisnisnya pun menyebar hinga ke Penyileukan, Kabupaten Bandung. Di Jalan Cipacing yang menuju Tasikmalaya dan Garut, misalnya, puluhan pedagang tahu sumedang berjajar di antara bengkel mobil dan penjual tape Bandung.

Pedagang berebut melambaikan tangan setiap kali ada mobil atau motor yang menuju ke tepi jalan. Lambaian tangan itu dimaksudkan mempersilakan pengendara mampir ke kios mereka. "Senjata untuk mendapatkan pembeli, ya cuma lambaian tangan ini," ujar Neni Hariani (32), pedagang yang telah berjualan selama 10 tahun.

Pengamat pemasaran dari Universitas Padjadjaran, Poppy Rufaidah, mengatakan, industri tahu sumedang dapat bertahan karena konsumsi produk itu stabil di dalam negeri. Tahu sumedang sudah menjadi semacam produk budaya yang dinikmati masyarakat lokal. Meski krisis melanda, tahu sumedang tetap dibeli sebagai penganan khas yang belum ada alternatif pengganti.


Sumber :

Rini Kustiasih

http://koran.kompas.com/read/xml/2008/11/29/12463865/tahu.sumedang.masih.menggeliat

29 November 2008

15 Juni 2010